Translate This !

Thursday, January 27, 2011

Sustainable Transport

Kota Guangzhou, jawara Sustainable Transport Award (Sumber: NationalGeographicIndonesia.co.id)
Pada beberapa tahun terakhir, Sustainable Transport Award dianugerahkan kepada New York, AS; Paris, Prancis; Guayaquil, Ekuador; Seoul, Korea Selatan; dan Bogota, Kolombia. Penghargaan ini diberikan kepada kota-kota yang memiliki sistem dan jaringan transportasi yang berkelanjutan yang dapat mengintegrasikan sistem transportasi bus dengan jaringan kereta, jalur sepeda yang lebar dan dibatasi dengan pepohonan, serta program berbagi sepeda sehingga masalah seperti kemacetan dapat terhindarkan.


Tahun ini, Guangzhou menang atas Leon, Guanajuato, Meksiko; Lima, Peru; Nantes, Prancis; dan Teheran, Iran. Salah satu kota di Republik Rakyat Cina ini memiliki jaringan transportasi yang sesuai dengan kriteria dalam penjurian untuk dapat penghargaan transportasi berkesinambungan (Sustainable Transport Award) yang diadakan oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP).

ITDP merupakan lembaga non-profit internasional yang bekerja sama dengan kota-kota di seluruh dunia untuk mengurangi polusi dan memperbaiki kehidupan masyarakat. Setiap tahun, ITDP memberikan penghargaan terhadap kota-kota yang mampu memberikan sistem transportasi yang berkesinambungan.

Di Guangzhou, sistem transportasi bus yang mulai beroperasi Februari 2010 melayani 800.000 ribu orang per hari. "Sistem ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia," kata Jessica Morris, direktur program senior dari ITDP. Sistem ini terhubung dengan sistem kereta dan jalur sepeda, seolah-olah menjadi satu sistem besar.

Para ahli mengatakan dengan mengurangi kemacetan dan polusi dari sektor transportasi di China, butuh kerja sama dari perencanaan tata kota, teknologi informasi, dan pengembangan transportasi massal juga kendaraan yang lebih ramah lingkungan.

Sistem transportasi di Guangzhou ini lalu diharapkan bisa menguntungkan pula bagi perekonomian. Selain itu, sistem juga harus adil. "Dalam arti orang bisa jalan-jalan di kota, tak peduli tingkat pendapatannya berapa," kata Morris.
Sistem Transportasi yang berkelanjutan (Guangzhou) (Sumber : NationalGeographicIndonesia.co.id)

Sistem Transportasi yang Semrawut (Jakarta) (Sumber : vhrmedia.com)
Lalu, bandingkan kondisi Sustainable Transport di Guangzhou yang mendapat pernghargaan ITDP dengan kondisi transportasi di Indonesia khusunya jakarta ? Tentu saja yang kita peroleh adalah kondisi sebaaliknya, atau bisa di katakan Jakarta adalah kebalikan dari Guangzhou di bidang transportasi. Bagaimana tidak, kita bisa lihat dan rasakan sendiri bagaimana semrawutnya sistem dan jaringan transportasi di Jakarta, macet di mana mana. Lalu, sudah adakah upaya pemerintah kita untuk menanggulangi hal tersebut ? Rasanya, apapun yang diupayakan untuk mengatasi kemacetan di Indonesia sama halnya seperti black hole theory, dimana untuk menyelesaikan masalah malah timbul masalah yang baru. Misalnya, dengan di bangunnya jalur bus Trans yang di harapkan dapat mengurangi kemacetan dan meningkatkan transportasi publik pada kenyataannya malah menimbulkan kemacetan baru diakibatkan terjadinya penyempitan jalan raya karena harus berbagi dengan jalur bus. Ditambah lagi dengan rasio antara badan jalan dengan volume kendaraan yang tak seimbang, tentunya membuat transportasi Jakarta kian kelam dan kian tipis harapan untuk meraih Sustainable Transport Award seperti halnya kota Guangzhou.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...