Translate This !

Sunday, April 3, 2011

Pulau Daur Ulang, Solusi atau Ancaman baru ?

saya selalu ingat akan sebuah lelucon ketika kuliah :
"... manusia jumlahnya terus bertambah, sedangkan lahan jumlahnya tidak bertambah.. mungkin itu salah satu alasan kenapa di negara kita gak ada yang namanya menteri perluasan wilayah..." dan gelak tawapun membahana.
Sebenarnya, kalo ditelaah lebih jauh, lelucon itu bukan sekedar lelucon, melainkan memiliki makna yang cukup dalam. Bagaimana tidak, dalam menghadapi perkembangan zaman yang diringi dengan perkembangan jumlah penduduk yang kian pesat ketersediaan lahan sebagai tempat untuk tinggal, hidup dan berpenghidupan akan berbanding terbalik jumlahnya. Semakin banyak penduduk, semakin banyak lahan yang dibutuhkan untuk tinggal sehingga ketersediaannya semakin berkurang. Tentu saja hal ini menjadi tantangan yang cukup memeras tenaga dan fikiran untuk menemukan solusi mengenai ancaman ketersediaan lahan, terutama untuk permukiman akibat ledakan penduduk.
perubahan penggunaan lahan di delta mahakam

reklamasi, salah satu usaha untuk mengatasi kebutuhan akan lahan.
Telah banyak cara yang coba dilakukan untuk menangani ketersediaan lahan ini, diantaranya dengan membuka lahan tidur (lahan yang potensial namun belum diolah), reklamasi, bahkan sampai nekat memanfaatkan lahan marginal demi terpenuhinya kebutuhan akan lahan. Namun, dari cara cara yang telah dilakukan tersebut masih memiliki kekurangan bila kita melihatnya dai perspektif lingkungan. Misalnya, dengan membuka lahan tidur yang berada di daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang secara ekologi lahan tersebut merupakan lahan konservasi sebagai area resapan hujan dapat memperbesar tingkat erosi, meningkatkan aliran permukaan dan lainnya yang akibatnya dapat mengurangi pasokan air tanah, rawan longsor dan banjir di daerah hilir. Sama halnya seperti membangunkan lahan tidur, reklamasi pantai juga memiliki kekurangan yang tak kalah banyak, diantaranya resiko intrusi air laut, selain itu tanah untuk reklamasi merupakan tanah dari lahan di tempat lain, sehingga bila dikatakan reklamasi pantai itu merupakan penambahan daratan sebenarnya ia hanya bersifat memindahkan lahan dan tentunya bisa menimbulkan resiko banjir rob di daerah sekitar reklamasi tersebut.
Sampah di laut pasifik
Lalu, solusi apa yang bisa kita harapkan untuk menanggulangi masalah kebutuhan akan lahan ? Baru- baru ini saya membaca sebuah artikel menari di National Geographic Indonesia Online tentang pulau daur ulang sampah, yang terapung, dan direncanakan bisa digunakan untuk lahan pertanian, bahkan mungkin bisa untuk lahan permukiman. Ide ini dicetuskan oleh seorang Ramon Knoester, seorang arsitek Belanda. Knoester bersama firma arsitekturnya Whim Architecture, mempunyai ide untuk memanfaatkan sampah plastik di lautan dan mengubahnya menjadi sebuah pulau mandiri dan berencana untuk membangun pulau berukuran 10 ribu kilometer persegi yang dapat dihuni manusia dan bahkan dapat digunakan untuk bercocok tanam.

Ide Koestner ini muncul karena adanya pulau sampah Pasifik (Great Pacific Garbage Patch), sebuah jalinan sampah plastik dengan ukuran yang diperkirakan mencapai dua kali luas negara bagian Texas, Amerika Serikat (luas Texas adalah 696.241 kilometer persegi). Sumber sampah yang membentuk pulau yang berlokasi di Samudera Pasifik Utara ini 80 persen berasal dari daratan dan 20 persen dari kapal yang berlayar dan sebagian besarnya berupa plastik. Dengan idenya ini, disebut-sebut sebagai salah satu solusi kreatif untuk membersihkan dan memanfaatkan sampah plastik yang ada di laut. Salah satu sumber menyebutkan tiga tujuan pengembangan proyek ini yaitu, membersihkan lautan dari sampah plastik, membangun sebuah pulau, dan membentuk sebuah habitat mandiri yang terbarukan. 

Namun, apakah ide tersebut bisa menjadi solusi ? atau malah menjadi ancaman baru untuk lingkungan khususnya lingkungan perairan laut ? 

Bersambung....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...