Translate This !

Thursday, April 1, 2010

Konsep Dasar Zona Bentanglahan Jawa Tengah


Selama sejarah perkembangan geografi, dikenal 2 objek kajian utama, yaitu: geografi fisik dan geografi sosial. Kajian pertama mendasarkan kepada objek bentang alami (natural landscape) dengan penekanan pada bentuklahan (landform), sedangkan yang kedua mendasarkan kepada objek bentang budaya (cultural landscape).
Dalam geografi dikaji fenomena geosfer melalui 3 pendekatan, yaitu: pendekatan keruangan, ekologi dan kompleks wilayah. Fenomena geosfer merupakan hasil interaksi faktor alam dan faktor manusia. Kenampakan fenomena geosfer pada hakekatnya ada 3 paham utama, yaitu: deterministik (faktor alam mempengaruhi kondisi manusia), posibilistik (faktor manusia mempengaruhi alam), dan probabilistik (faktor alam dan manusia sama-sama memberikan kemungkinan terbentuknya fenomena geosfer).
Istilah bentanglahan berasal dari kata landscape (Inggris) atau landscap (Belanda) atau landschaft (Jerman), yang secara umum berarti pemandangan. Arti pemandangan mengandung 2 aspek, yaitu: aspek visual dan aspek estetika pada suatu lingkungan tertentu (Zonneveld, 1979). Ada beberapa penulis yang memberikan pengertian tentang bentanglahan berikut ini.
(i) Bentanglahan merupakan gabungan dari bentuklahan (landform). Bentuklahan merupakan kenampakan tunggal, seperti sebuah bukit atau sebuah lembah sungai. Kombinasi dari kenampakan tersebut membentuk suatu bentanglahan, seperti daerah perbukitan yang bervariasi bentuk dan ukurannya dengan aliran air sungai di selaselanya (Tuttle, 1975).
(ii) Bentanglahan ialah sebagian ruang permukaan bumi yang terdiri atas sistem-sistem, yang dibentuk oleh interaksi dan interdependensi antara bentuklahan, batuan, bahan pelapukan batuan, tanah, air, udara, tetumbuhan, hewan, laut tepi pantai, energi dan manusia dengan segala aktivitasnya yang secara keseluruhan membentuk satu kesatuan (Surastopo, 1982).
(iii) Bentanglahan merupakan bentangan permukaan bumi dengan seluruh fenomenanya, yang mencakup: bentuklahan, tanah, vegetasi, dan atribut-atribut lain yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia (Vink, 1983).
Berdasarkan pengertian bentanglahan tersebut, maka dapat diketahui bahwa terdapat 8 unsur penyusun bentanglahan, yaitu: udara, batuan, tanah, air, bentuklahan, flora, fauna, dan manusia dengan segala aktivitasnya. Kedelapan anasir bentanglahan tersebut merupakan faktor-faktor enentu terbentuknya bentanglahan, yang terdiri atas: faktor eomorfik (G), litologik (L), edafik (E), klimatik (K), hidrologik (H), oseanik O), biotik (B), dan faktor antropogenik (A). Dengan demikian berdasarkan faktor-faktor pembentuknya, bentanglahan (Ls) dapat dirumuskan sebagai:
Ls = ƒ (G, L, E, K, H, 0, B, A)
Keterangan: Ls (bentanglahan) G (geomorfik) L (litologik)
E (edafik) K (klimatik) H (hidrologik)
O (oseanik) B (biotik) A (antropogenik)
Dikaitkan dengan konsep pada Bab 1, maka bentanglahan mencakup aspek kajian penting, yaitu: bentang alami dengan inti kajian bentuklahan dan bentang budaya dengan inti kajian manusia dengan segala perilakunya terhadap lahan.

Bentuklahan sebagai Inti Kajian Bentang Alami
Menurut Tuttle (1975), bentanglahan atau landskap merupakan kombinasi atau gabungan dari bentuklahan. Mengacu pada definisi bentanglahan tersebut, maka dapat dimengerti bahwa unit analisis yang sesuai adalah unit bentuklahan. Oleh karena itu, untuk menganalisis dan mengklasifikasikan bentanglahan selalu mendasarkan pada kerangka kerja bentuklahan (landform). Bentuklahan adalah bagian dari permukaan bumi yang memiliki bentuk topografis khas, akibat pengaruh kuat dari proses alam dan struktur geologis pada material batuan dalam skala ruang dan waktu kronologis tertentu. Berdasarkan pengertian ini, faktor-faktor penentu bentuklahan (Lf) dapat dirumuskan sebagai:
Lf = ƒ (T, P, S, M, K)
Keterangan: Lf (bentuklahan) T (topografi)
P (proses alam) S (struktur geologis)
M (material batuan) K (ruang dan waktu kronologis)
Oleh karena untuk menganalisis bentanglahan lebih sesuai dengan berdasarkan pada bentuklahan, maka klasifikasi bentanglahan juga akan lebih sesuai jika didasarkan pada unit-unit bentuklahan penyusunnya. Verstappen (1983) telah mengklasifikasikan bentuklahan berdasarkan genesisnya menjadi 10 macam bentuklahan asal proses, seperti diuraikan berikut ini.
(a) Bentuklahan asal proses volkanik (V), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas gunungapi. Contoh bentuklahan ini antara lain: kerucut gunungapi, medan lava, kawah, dan kaldera.
(b) Bentuklahan asal proses struktural (S), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat struktur geologis. Pegunungan lipatan, pegunungan patahan, perbukitan, dan kubah merupakan contoh-contoh untuk bentuklahan asal struktural.
(c) Bentuklahan asal fluvial (F) merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas sungai. Dataran banjir, rawa belakang, teras sungai, dan tanggul alam merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan ini.
(d) Bentuklahan asal proses solusional (S) merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses pelarutan pada batuan yang mudah larut, seperti batugamping dan dolomite karst menara, karst kerucut, doline, uvala, polye, goa karst, dan logva merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan ini.
(e) Bentuklahan asal proses denudasional (D) merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses degradasi, seperti longsor dan erosi. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: bukit sisa, lembah sungai, peneplain, dan lahan rusak.
(f) Bentuklahan asal proses eolian (E) merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses angin. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: gumuk pasir barchan, parallel, parabolik, bintang, lidah, dan transversal.
(g) Bentuklahan asal marine (M) merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses laut oleh tenaga gelombang, arus, dan pasang-surut. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: gisik pantai (beach), bura (spit), tombolo, laguna, dan beting gisik (beach ridge). Karena kebanyakan sungai dapat dikatakan bermuara ke laut, maka seringkali terjadi bentuklahan yang terjadi akibat kombinasi proses fluvial dan proses marine. Kombinasi kedua proses itu disebut proses fluvio-marine. Contoh-contoh satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses fluvio-marine ini antara lain delta dan estuari.
(h) Bentuklahan asal glasial (G) merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses gerakan es (gletser). Contoh satuan bentuklahan ini antara lain lembah menggantung dan morine.
(i) Bentuklahan asal organik (O) merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat aktivitas organisme (flora dan fauna). Contoh satuan bentuklahan ini adalah pantai mangrove dan terumbu karang.
(j) Bentuklahan asal antropogenik (A) merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Waduk, kota, pelabuhan, merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan hasil proses antropogenik.

 Bentang Budaya: Manusia dan Aktivitasnya
Secara umum, di alam ini ada 2 tipe lingkungan, yaitu: lingkungan alam, baik yang bersifat abiotik maupun biotik; dan lingkungan sosial. Dua komponen tersebut penting dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya ‘bagai sekeping mata uang’. Pada Pegunungan atau Perbukitan yang ada kegiatan pertanian. Perbedaannya, keadaan alam relatif statis, sedangkan lingkungan sosial sangat dinamis dan berubah cepat. Selain itu kedua unsur pokok tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling pengaruh mempengaruhi.
Bentang budaya adalah suatu kenampakan nyata hasil interaksi, adaptasi atau penyesuaian manusia terhadap lingkungan alam. Hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan alam tersebut mencerminkan tingkat penyesuaian dan penguasaan manusia terhadap lingkungan alam. Perwujudannya dapat dilihat pada bentuk bentang budaya. Selain memunculkan kenampakan budaya, hasil interaksi antara manusia dan alam, juga mengakibatkan munculnya gejala sosial, seperti: kemiskinan, mobilitas, jenis mata pencaharian, dan konsumsi. Dengan demikian, suatu bentang fisik yang dipengaruhi atau ada campurtangan manusia sudah sangat banyak dan kuat, maka bentang budayanya juga semakin kompleks.
Bentang budaya pada hakekatnya merupakan bentuk kenampakan (bentangan) dari suatu masyarakat dan lingkungan sosialnya. Pengertian masyarakat di dalamnya terkandung sekumpulan penduduk dengan seluruh karakteristik sosial, sedang lingkungan sosial dapat berupa faktorfaktor kebiasaan, tradisi, adat istiadat, hukum, kepercayaan, agama, dan ideologi.
Faktor pembentuk bentang budaya adalah: manusia dengan segala kebutuhannya serta lingkungan sosialnya.
(a) Manusia baik dari segi jumlah, kualitas dan karakteristis yang melekat di dalamnya. Jumlah manusia yang banyak dan padat, akan meningkatkan kebutuhannya, yang mengakibatkan hubungan dengan alam akan memberikan kenampakan khusus, misalnya, manusia kota dan desa. Manusia dengan ciri dan kualitas yang tinggi dalam pendidikan, dan teknologi, akan dapat mengatasi kendala alam dan menjadi penyebab perubahan yang paling intensif dalam merubah bentang alam maupun kenampakan sosial , baik secara positip maupun negatip.
(b) Kebutuhan hidup sangat berpengaruh terhadap kenampakan budaya, bahkan menjadi salah satu penciri bentang budaya. Sebagai contoh, pada daerah tingkat kebutuhan dagang tinggi, akan menampakkan ruang perdagangan. Kebutuhan manusia pada hakekatnya ada 2 (dua), yaitu: kebutuhan materiil, seperti makanan, pakaian, rumah; dan kebutuhan immaterial, seperti pendidikan, berkelompok, kesehatan, agama, pengetahuan, dan lain-lain. Kebutuhan pertama lebih berhubungan dengan lingkungan alam, sedangkan kebutuhan kedua terkait dengan ingkungan sosial. Kebutuhan manusia juga dapat memberikan kenampakan ruang tersendiri, seperti yang diuraikan berikut ini.
*      Wisma atau kebutuhan terhadap rumah dan perumahan, dapat dilihat dari bahan, bentuk, luas, arsitektur, penataan ruang, dan persebaran.
*      Karya, atau kebutuhan mendapatkan kerja dengan mata pencaharian tertentu umumnya terkait dengan lingkungan alam sekitarnya. Penduduk di pantai umumnya nelayan, petambak, di dataran, umumnya bertani, di perkotaan bekarja di sektor industri dan bisnis. Berbagai jenis matapencaharian diantaranya pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, pertambangan, industri, perdagangan, sektor publik, dan wiraswasta.
*      Marga adalah perwujudan keinginan dasar manusia untuk berinteraksi satu dengan lainnya dalam menjalankan aktivitasnya. Kenampakan spasialnya dapat dilihat dari jalan transportasi, yang meliputi jarak, tipe jalan, kualitas jalan, kepadatan, lebar jalan, dan sarana transportasi.
*      Fasilitas sosial ekonomi, yang menunjang aktivitas manusia menjalankan kehidupannya baik yang sifatnya sosial maupun ekonomi, misalnya: fasilitas administrasi, perkantoran, pasar, keagamaan, kesehatan, dan pendidikan.
*      Taraf hidup, yaitu status sosial dan ekonomi, sangat mempengaruhi jenis dan tingkat kebutuhan manusia. Menurut pendapat Engel, semakin tinggi taraf hidup manusia atau pendapatan, semakin kecil kebutuhan primer dan semakin meningkat kebutuhan sekunder dan tersiernya. Taraf hidup seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik alam maupun manusia
(c) Lingkungan sosial merupakan area yang melingkupi kehidupan manusia. Oleh karena itu sangat menentukan dan membentuk karakter bentang budayanya. Beberapa unsurtersebut antara lain berupa faktor-faktor kebiasaan, tradisi, adat istiadat, kepercayaan, agama, dan ideologi.
(d) Lingkungan alam yang menjadi dasar dan ajang kehidupan sangat berpengaruh terhadap terbentuknya bentang budaya, bagian bentanglahan. Beberapa unsur alam yang berpengaruh lain unsur geomorfik, batuan, tanah, iklim, hidrologik, oseanik, biotik. Pendapat bahwa alam mempengaruhi manusia, manusia di pegunungan, dataran, dan pantai akan karakteristik kenampakan yang khusus dan berbeda, permukiman, berpakaian, maupun pola relasi sosialnya.

Klasifikasi bentang budaya
a. Pendekatan lokasi (site and situation)
Berdasar pendekatan lokasi atau letak, pada dasarnya bentang budaya dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu: bentang desa dan bentang kota. Masing-masing memiliki kenampakan budaya, sosial, ekonomi, dan fisik yang berbeda. Berdasarkan tinjauan geografi, desa diartikan sebagai bentuk bentang budaya hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya, yang dicirikan oleh sifat agraris dan kehidupan yang sederhana, jumlah penduduk tidak besar. Bentang desa terdiri atas: permukiman penduduk, pekarangan, dan persawahan. Jaringan jalan  belum begitu padat dan sarana transportasi masih terbatas. Relasi antara manusia dengan lahan intensif, hal ini dicerminkan dari tingginya tingkat ketergantungan terhadap lahan.
Kota merupakan salah satu bentuk bentang budaya hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya, dengan gejala-gejala pemusatan penduduk, non agraris, strata sosial yang heterogen, dan materialistik. Bentang kota umumnya didominasi oleh permukiman penduduk, tempat bekerja, tempat hidup dan rekreasi. Jaringan jalan padat dan sarana transportasi dan aksesibilitas baik.
Selain perbedaan tersebut, karakteristik bentang desa dan kota juga dapat diamati dari komponen bentang budayanya, yaitu manusia, kebutuhan hidup, yaitu: wisma, karya, marga, fasilitas, taraf hidup, lingkungan alam dan sosial.

b. Pendekatan kegiatan dan pemanfaatan ruang
Pengenalan bentang budaya juga dapat diamati secara kasat mata dari kegiatan-kegiatan yang berlangsung dipermukaan bumi, khususnya pemanfaatan lahan dalam memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan pandangan ini, bentang budaya dapat dikelompokkan kedalam 7 tipe, seperti diuraikan berikut ini.
(a) Bentang permukiman baik pada desa maupun kota dapat dikenali dari bentuk, pola distribusi, dan kepadatan. Bentang permukiman umumnya tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga tempat hidup, sehingga ia sering bersandingan dengan bentang kegiatan lain, baik yang sifatnya sosial maupun ekonomi.
(b) Bentang pertanian adalah salah satu bentuk bentang budaya yang terbentuk hasil interaksi antara manusia dengan lingkungan alam. Kegiatan pertanian merupakan kegiatan primer yang memanfaatkan dan mengolah kondisi alam. Secara umum bentang pertanian dapat dikelompokkan menjadi berikut ini.
*      Pertanian lahan basah, dicirikan oleh adanya ketersediaan air yang melimpah baik mataair maupun saluran irigasi, yang memungkinkan manusia memanfaatkan lahan lebih optimal. Bentang pertanian ini umumnya subur, produksi tinggi dengan pemanfatan untuk sawah.
*      Pertanian lahan kering, dicirikan oleh adanya keterbatasan ketersediaan sumberdaya air dalam pengolahan lahan. Bentang ini umumnya kurang subur, marginal, produktivitas rendah dan terdiri dari pemanfatan sawah tadah hujan dan tanamantanaman holtikultura. Secara morfologi umumnya berada di bentang lahan berombak dan bergelombang.
*      Perkebunan, dicirikan oleh penanaman jenis tanaman tertentu yang seragam, misalnya perkebunan karet, teh, kopi, dan kelapa sawit. Secara morfologi umumnya bentang perkebunan dapat berlokasi pada dataran, perbukitan maupun pegunungan, menyesuaikan dengan jenis tanamannya
*      Perikanan dan kelautan, adalah bentuk bentang budaya hasil kreasi manusia dalam memanfaatkan pengaruh air dan laut. Perikanan darat dilakukan dengan air tawar. Perikanan laut, dapat digolongkan pada perikanan pantai, laut dangkal, dan laut dalam.
*      Peternakan, adalah bentuk bentang budaya dan pemanfaatan atau pembudidayaan manusia terhadap sumberdaya alam. Bentang peternakan di Indonesia dikelompokkan menjadi peternakan hewan besar, yaitu: sapi, kerbau, dan kuda; sedangkan peternakan hewan kecil, yaitu: kambing, kelinci, peternakan unggas, dan lebah.
*      Kehutanan, adalah kenampakan area permukaan bumi yang didominasi oleh tanaman kehutanan, baik yang bersifat alami maupun buatan, yaitu ditanam. Pada tipe hutan produksi intervensi manusia tampak dominan, sedangkan pada tipe hutan cagar alam, hutan lindung, hutan rekreasi lebih dipengaruhi faktor alam.
(c) Bentang pertambangan adalah suatu bentuk kenampakan akibat pengolahan sumberdaya alam, yang berupa: bahan tambang yang dilakukan oleh manusia, baik secara terorganisasi maupun individual. Kenampakan bentang pertambangan sangat tergantung dari jenis bahan tambang yang dimanfaatkan, yaitu, bahan tambang golongan A (strategis), B (penting), atau bahan galian golongan C (untuk bangunan dan industri).
(d) Bentang industri adalah bentuk kenampakan dipermukaan bumi yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dalam proses produksi, yaitu pengolahan dari bahan mentah menjadi bahan jadi. Secara umum bentang industri dapat dikenali dari bentuk dan pola. Bentang industri yang terkonsentrasi, seperti kawasan industri memiliki bentuk dan pola yang teratur, sedangkan pada bentang industri tunggal, industri kecil menengah, dan kerajinan umumnya polanya tersebar bercampur dengan aktivitas lainnya.
(e) Bentang perdagangan dapat muncul sebagai satu kawasan khusus, seperti kawasan perdagangan di perkotaan, namun umumnya tersebar mengikuti aktivitas-aktivitas lainnya, khususnya permukiman. Menurut karakteristiknya, bentang perdagangan formal umumnya teratur, sedangkan bentang perdagangan informal cenderung tidak teratur dengan lokasi yang tersebar.
(f) Bentang perkantoran dan jasa memiliki karakteristik yang sama dengan bentang perdagangan, dapat muncul sebagai satu kawasan khusus maupun tersebar mengikuti kegiatan lainnya. Bentang
perdagangan, jasa, dan perkantoran adalah karakteristik bentang dominan di daerah perkotaan.
(g) Bentang pariwisata sebagai kunci pengenalannya tergantung dari tipe wisata yang ada. Pada wisata alam, kondisi alam menjadi faktor kunci pengembangan, yang berupa: gunung, pantai, goa, dan laut sedangkan pada wisata budaya, aspek kuntural menjadi daya tarik. Selain dua tipe wiasata tersebut, di perkotaan juga telah jauh berkembang wisata hasil rekayasa teknologi, seperti dunia fantasi, dan sea world, bahkan sekarang tempat-tempat belanja dan keramaian serta keunikan yang diciptakan juga menjadi objek wisata.

Pada kenyataannya bentang kegiatan tersebut dapat berbentuk tunggal, namun yang lebih sering dijumpai adalah bentang kompleks, artinya satu bentang kegiatan bersama-sama berlokasi dalam satu area dengan bentang kegiatan yang lain. Masing-masing bentang budaya tersebut memiliki karakteristik demografis, sosial, ekonomi, dan budaya serta politis spesifik, termasuk relasi-relasi yang terjadi di dalamnya. Untuk beberapa kasus masing-masing bentang kegiatan dapat menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan-perbedaan tertentu.

2.1.4 Kunci Pemahaman Bentanglahan
Proses terbentuknya bentanglahan, baik bentang alami maupun bentang budaya, dapat diterangkan berdasar 3 komponen, yaitu: komponen lingkungan alam, lingkungan sosial, dan ideologi, seperti disajikan dalam Gambar 2.1. Dua komponen pertama dapat diamati oleh pancaindera, sehingga memunculkan suatu kenampakan, sedangkan komponen ideologi lebih berkaitan dengan akal dan hati yang tidak terlihat secara kasat mata.
Masing-masing komponen memiliki sub komponen. Sebagai contoh pada komponen lingkungan alami terdapat sub komponen: relief, batuan, air, dan iklim yang saling berinteraksi. Interaksi ini disebut dengan interaksi horisontal, yang akan memciptakan kenampakan bentang tersendiri. Selain itu juga terdapat interaksi vertikal, yaitu interaksi yang terjadi antar komponen yang saling mempengaruhi, misalnya antara lingkungan alam dan lingkungan sosial. Tiga komponen tersebut berhubungan satu dengan lainnya, dan tidak dapat dipisahkan.
Komponen lingkungan alam merupakan dasar, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya melakukan kegiatannya. Komponen ini dapat berbentuk abiotik, yaitu permukaan bumi dan seluruh isi dan komponennya, juga dapat berbentuk biotik. Komponen ini mempengaruhi dan memberikan kemungkinan pilihan-pilihan hidup bagi manusia. Sebagai contoh lingkungan alam pegunungan akan memberikan pola interaksi dan interrelasi yang berbeda dengan lingkungan alam pantai, sehingga kenampakan bentang alam dan bentang budaya di atasnya juga akan berbeda.
Komponen lingkungan sosial berada di atas lingkungan alam, berisi manusia dan seluruh aktivitasnya, baik yang bersifat sosial, ekonomi, budaya, maupun politik. Komponen ini bersifat dinamis, karena itu sering disebut juga faktor perubah atau modifier. Aktivitas manusia dapat memodifikasi lingkungan alam, yang dapat diamati melalui kenampakan bentang budayanya.
Komponen ideologi merupakan faktor kunci yang paling tinggi yang mempengaruhi aktivitas manusia dalam lingkungan alam. Komponen ini berada pada tingkatan akal dan hati atau sering disebut juga dengan cipta, rasa, dan karsa manusia. Analisis dapat dilakukan dengan melihat unsur agama, ideologi, kepercayaan, tradisi, pengetahuan, teknologi. Sebagai contoh perbedaan bentanglahan Pulau Bali dan Pulau Jawa dapat dijelaskan dengan konsep ini, mengingat lingkungan alam dan sosialnya tidak terlalu berbeda.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...