Translate This !

Saturday, November 20, 2010

HUJAN WILAYAH


Curah hujan merupakan salah satu unsur iklim yang cukup penting dan merupakan bagian dari daur hidrologi yang tidak terpisahkan.  Distribusi hujan akan berbeda-beda menurut ruang dan waktu sebagai akibat dari pengaruh faktor cuaca lainnya seperti suhu, angin, radiasi surya dan kelembaban serta kondisi topografi. Selanjutnya juga akan berpengaruh atau menentukan jumlah peredaran air di bumi dalam siklus  hidrologi.
Data hujan merupakan data yang mempunyai sifat fundamental dan sangat diperlukan untuk keperluan perencanaan ataupun  pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan hidrologi seperti erosi tanah, pengendalian banjir, irigasi dan cadangan/ketersediaan air.
Curah hujan yang diperlukan untuk kepentingan tersebut adalah curah hujan rata-rata wilayah. Jadi bukan curah hujan pada suatu tititk pengukuran tertentu. Curah hujan wilayah dapat diperkirakan dari beberapa titik penakar hujan yang tersebar pada suatu wilayah yang ditinjau. Distribusi hujan suatu wilayah dapat disajikan dalam suatu peta, sedangkan data yang digunakan dapat berupa data rata-rata tahunan, bulanan harian ataupun sesaat. Hal itu tergantung pada maksud dan tujuan penelitian. Cara perhitungan yang sering digunakan adalah :
(1). Metode Aritmatik
            Cara ini merupakan cara yang sederhana, yaitu dengan membagi rata curah hujan yang ada terhadap jumlah titik pengamatan. Biasanya digunakan untuk wilayah yang mempunyai titik pengamatan yang tersebar merata dan kondisi daerahnya relatif homogen (datar).

                        1
            P   =    ---   ( P1 + P2 +P3 + ………+ Pn)
                        n

dalam hal ini :
    P      =  curah hujan wilayah (mm)
                            n      =  jumlah titik (pos) pengamatan
        P1, P2, P3, …, Pn    =  curah hujan pada masing-masing titik pengamatan (mm)        

(2).     Metode Poligon Thiessen
            Metoda ini digunakan untuk wilayah yang mempunyai stasiun pengamat hujan yang tidak tersebar secara merata dan daerahnya tidak homogen. Cara perhitungannya yaitu dengan langkah-langkah sebagai  berikut :
a.        Lokasi stasiun pengamat hujan diplot pada peta dan masing-masing dihubungkan membentuk segitiga.
b.       Garis bagi tegak lurus dari garis hubung akan membentuk poligon-poligon yang mengelilingi masing-masing stasiun.
c.        Sisi tiap poligon merupakan batas daerah pengamat hujan yang bersangkutan.
d.       Menghitung luasan masing-masing poligon.
e.        Faktor bobot dalam menghitung hujan rata-rata wilayah diperoleh dengan mengalikan presipitasi setiap stasiun pengamat dengan luas poligon yang bersangkutan dibagi dengan luasan seluruh wilayah.

Hujan rata-rata wilayah dirumuskan sebagai berikut :

                        P1A1 + P2A2 +P3A3 + ………+ PnAn
            P =

                               A1 + A2 +A3 + ………+ An
           
dalam hal ini :
                   P   = curah hujan wilayah (mm)
P1,P2,P3,.,Pn        = curah hujan masing-masing stasiun pengamatan (mm)
A1,A2,A3,.,An       = luas masing-masing poligon

(3). Metode Isohiet
            Metoda ini digunakan untuk wilayah yang mempunyai variasi curah hujan yang besar. Cara pembuatan isohiet dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.        Lokasi masing-masing stasiun pengamat hujan di plot berikut nilai curah hujannya.
b.       Dibuat garis kontur untuk curah hujan yang sama dengan interval tertentu.
c.        Mencari harga rata-rata curah hujan diantara 2 garis isohyet berikut luasnya.
d.       Hujan rata-rata (wilayah) dapat dirumuskan sebagai berikut :

            {(P1+P2)/2 (A1)}+{(P2+P3)/2 (A2)}+{(P3+P4)/2 (A3)}+…+ {(Pn+Pn+1)/2 (An)}
P  =
                                                A1 + A2 +A3 + ………+ An
           
dalam hal ini :
                   P   = curah hujan wilayah (mm)
P1,P2,P3,.,Pn        = curah hujan rata-rata pada bagian-bagian A1,A2,A3,.,An
A1,A2,A3,.,An       = luas masing-masing antara garis-garis isohiet

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...