Translate This !

Saturday, January 29, 2011

BADAI TROPIS DAN PENGARUHNYA TERHADAP CUACA BURUK DI INDONESIA

Siklon Tropis Kathrina
Badai Tropis (disebut juga dengan Typhoon atau Tropical Cyclone) adalah pusaran angin kencang dengan diameter Sampai dengan 200 km dan berkecepatan > 200 km/jam serta mempunyai lintasan sejauh 1000 km. Dengan
kecepatan angin sedemikian, sebuah badai tropis yang melintasi daratan dapat mengakibatkan kerusakan yang sangat hebat. Tidak hanya pohon-pohon yang tercerabut dari akarnya, bangunan-bangunan permanen tersapu, mobil besar, kereta api, dan benda-benda besar atau berat lainnya terangkat dan beterbangan, serta menimbulkan ribuan korban jiwa.

Pemberitaan mengenai badai, siklon tropis, dan putting beliung di media massa beberapa bulan terakhir seakan menambah kecemasan baru bagi masyarakat kita yang sudah kenyang diguncang bencana. Apalagi dengan banyaknya informasi simpang siur dan isu-isu yang berkembang seakan-akan terus memupuk kondisi resah dan was-was itu sampai-sampai menimbulkan ketakutan yang berlebihan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Ditambah lagi interpretasi dan analisa meteorologi yang dilakukan secara terburu-buru dan tanpa dasar data yang kuat hanya akan menghasilkan informasi yang salah. Dan pada akhirnya juga akan menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Kalimat yang menyatakan bahwa “Badai dikirim dari Australia dan akan singgah di Jawa” atau “Badai yang terjadi saat ini merupakan anomali cuaca”, adalah beberapa contoh kesalahan interpretasi dan analisa yang berhasil membuat masyarakat kita lebih panik dan cemas.

Analisa parameter-parameter cuaca khususnya yang berkaitan dengan badai (mulai dari sifatnya, geraknya, pertumbuhannya, hingga kerusakan yang mungkin ditimbulkannya) memerlukan pemahaman mendalam mengenai ilmu cuaca. Dan memahami ilmu cuaca tidak hanya bersifat liner tapi bersifat multfungsi dan pemahaman secara kesuluruhan sirkulasi udara serta sebab dan akibatnya.

Sebenarnya apa sih badai tropis ?
Meskipun badai itu sendiri sebenarnya sudah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, kata “Badai” di telinga masyarakat Indonesia seolah-olah merupakan fenomena yang baru, aneh dan seolah-olah sama dengan badai yang terjadi di Amerika, Australia, Jepang, china dan Filipina. Ini karena badai (yang disamping dapat menimbukan kerugian material sangat besar juga dikenal menelan korban jiwa yang tidak sedikit), akhir-akhir ini seringkali dijadikan sorotan oleh media massa. Sisi positifnya, serbuan informasi tersebut menjadikan masyarakat kita menjadi lebih cerdas, kritis dan aware. Namun juga harus berhati-hati apakah informasi yang sampai kepada masyarakat adalah benar atau hanya sekedar isu. Karena informasi yang salah justru akan membingungkan dan berdampak buruk terhadap kondisi masyarakat itu sendiri.
Badai Tropis (disebut juga dengan Typhoon atau Hurricane atau Tropical Cyclone) merupakan pusaran angin kencang dengan diameter sampai dengan 200 km/jam, berkecepatan > 200 km serta mempunyai lintasan sejauh 1000 km. Setiap tahunnya badai tumbuh di atas perairan luas di setiap samudera yang ada di permukaan bumi. Ia bisa tumbuh ketika suhu muka laut berada di atas 27 oC dan bisa dideteksi kemungkinan tumbuhnya sejak tiga hari sebelumnya. Karena bertambahnya faktor kekasaran permukaan dan kehilangan sumber kelembabannya, badai akan melemah ketika masuk ke daratan.

Bagaimana Badai Tropis Terbentuk ?
Mekanisme pembentukan badai
Sebuah sistem pusaran angin yang terbentuk di atas samudra luas belum bisa disebut badai jika belum memiliki beberapa kualifikasi. Yang utama, ia tidak akan disebut badai kecuali memiliki kecepatan angin lebih dari 34 knot (63 km/jam) dan berada diskeitra laut. Calon bibit badai ini juga belum tentu akan tumbuh menjadi badai jika tidak ada faktor-faktor meteorologis lain yang mendukung. Suatu Pusat Peringatan Siklon Tropis yang telah ditunjuk sebelumnya oleh Badan Meteorologi Internasional berwenang memberi nama badai ini dan menyebarkan peringatan ke seluruh dunia. Namun untuk sementara ini Indonesia baru akan diberi tanggung jawab sebagai salah satu Pusat Peringatan Siklon Tropis untuk wilayah 0 – 10 derajat Lintang Selatan dan 90 – 120 Bujur Timur pada awal tahun 2008.

Lalu, bagaimana pengaruhnya terhadap cuaca buruk di Indonesia ?

Sebenarnya, setiap badai bergerak dengan lintasan mereka masing-masing. Meskipun demikian, pada umumnya badai yang terbentuk di sebelah Utara ekuator bergerak ke arah Barat atau Barat Laut, dan badai yang terbentuk di sebelah Selatan ekuator bergerak ke arah Barat atau Barat Daya. Ini berkaitan banyak faktor termasuk di antaranya arah rotasi bumi dan gaya corioli yang ditimbulkannya. Badai tropis bergerak berbanding lurus dengan besar gaya coriolis bumi. Di sini berlaku fungsi matematik Sinus Ф dengan Ф adalah besar lintang. Karena Indonesia berada di wilayah ekuator dengan sudut lintang rendah, maka harga Sinus yang didapat mendekati nol. Hal tersebut menyebabkan badai tropis apapun tidak mungkin melintasi wilayah Indonesia. Bisa dilihat dari data klimatologi bahwa wilayah tumbuh badai tropis adalah di atas 10 derajat LS pada bulan Desember sampai April dan diatas 10 derajat LU pada bulan September sampai November. Indonesia tidak seperti negara-negara yang seringkali menjadi lintasan badai seperti Amerika, Jepang, Australia, Filipina atau negara lainnya. Indonesia hanya akan terkena pengaruh tidak langsung yaitu berupa angin kencang, gelombang tinggi dan hujan pada daerah-daerah yang dekat dengan tempat tumbuhnya badai.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...