Translate This !

Wednesday, February 2, 2011

Satuan Batuan Paleogen (Eosen) Perbukitan Jiwo - Bayat

Masih membahas satuan batuan di Perbukitan Jiwo, Bayat., Satuan batuan paleogen Menumpang secara tidak selaras di atas satuan batuan Pra- Tersier adalah Formasi Wungkal-Gamping yang berumur Eosen Tengah dan terdiri dari konglomerat, batupasir kuarsa, batugamping numulit, dan batulempung.
Berdasarkan kandungan fosil nanno, batulempungnya menunjukkan umur akhir Eosen Tengah (Setiawan, 2000). Formasi Wungkal- Gamping ditindih secara tidak selaras oleh Formasi Kebobutak yang singkapannya terdapat di bagian tenggara daerah Bayat dan terdiri dari lava basaltik-andesitik, batupasir volkanik dengan sisipan batulanau dan laminasi tuf. Umur formasi ini adalah Oligosen Akhir sampai Miosen Awal (Surono dkk., 1992). Formasi Kebobutak diinterpretasikan sebagai sedimen laut dalam yang terendapkan di lingkungan kipas bawah-laut (Toha dkk, 1994). Formasi-formasi ini diterobos oleh intrusi mikrodiorit (Sumarso dan Ismoyowati, 1975). Formasi Tersier termuda di daerah Perbukitan Jiwo, Bayat adalah Formasi Wonosari yang berumur Miosen Akhir (Surono dkk., 1992) dan menumpang secara tidak selaras di atas formasi-formasi yang lebih tua. Formasi Wonosari terdiri dari batugamping klastik yang berselang-seling dengan napal, batugamping terumbu, dan batugamping tufan.

Tidak seperti yang dijumpai di daerah Luk Ulo, Karangsambung dan Nanggulan dimana satuan batuan Eosen tersingkap secara menerus pada suatu daerah yang cukup luas, singkapan batuan Eosen di daerah Perbukitan Jiwo, Bayat terdapat secara terpisah-pisah, sesuai kondisi perbukitan Jiwo yang terpisah oleh Kali Dengkeng, menjadi Perbukitan Jiwo Barat dan Jiwo Timur. Oleh karenanya kondisi singkapan batuan Eosen di daerah ini tidak sebanyak dan sebaik seperti yang dijumpai di daerah Luk Ulo, Karangsambung dan Nanggulan. Kemungkinan karena kondisi singkapannya yang tidak menerus inilah tidak banyak penelitian batuan Eosen dilakukan di daerah ini sejak penelitian pertama dilakukan oleh Verbeek dan Fennema (1986, dalam Sumarso dan Ismoyowati, 1975), Boethe (1929), dan disusul 20 tahun kemudian oleh Sumosusastro (1957). Dalam kajiannya tentang batuan-dasar di daerah ini Boethe (1929) menemukan fosil Orbitolina yang berumur Kapur di dalam bongkah batugamping dari konglomerat Neogen yang berdekatan dengan singkapan batuan Pra-Tersier. Laporan tentang penemuan ini tidak banyak berarti karena tidak disertai dengan rincian letak lokasi penemuan sehingga sulit ditelusuri kembali keberadaannya. Di dalam batuan Eosen penelitian-penelitian awal ini mengidentifikasi keterdapatan fosil foram besar, yang terdapat di dalam lensa-lensa batugamping, yang terdiri dari Assilina spira, A.exponens, A.granulosa, Nummulites javanus, N. bagelensis, Discocyclina dispansa, D. javana, dan D. omphala. Asosiasi fosil ini menunjukkan Eosen Tengah. Jika peneliti-peneliti awal
memusatkan perhatiannya pada kehadiran foram besar di dalam batuan Eosen, maka Sumarso dan Ismoyowati (1975) mencermati kehadiran foram plankton sebagai dasar untuk menyusun stratigrafi Perbukitan Jiwo dan daerah di selatannya.

Batuan Eosen di daerah Perbukitan Jiwo dibagi oleh Bothe (1929) menjadi dua satuan litostratigrafi. Satuan bagian bawah yang terdiri dari batupasir kuarsa dan batugamping foram yang berumur Eosen Tengah disebutnya sebagai Wungkal Beds. Nama “Wungkal” berasal dari nama Gunung Wungkal di Jiwo Barat. Gunung ini telah habis ditambang oleh penduduk setempat dan saat ini telah berubah menjadi daerah pemukiman, sedangkan satuan bagian atas, terdiri dari batulempung dan batulanau gampingan berumur Eosen
Tengah sampai Eosen Akhir, disebut sebagai Gamping Beds. Nama “Gamping” diambil dari nama Gunung Gamping di Jiwo Timur yang sekarang ini berubah namanya menjadi Desa Gamping. Oleh peneliti selanjutnya (Surono dkk, 1992) kedua nama satuan batuan Eosen tersebut digabung dan disebut sebagai Formasi Wungkal-Gamping. 

Batuan Eosen di Perbukitan Jiwo dijumpai secara terpisahpisah di dua tempat, yakni di daerah Jiwo Barat dan Jiwo Timur (lihat Gambar-1). Di daerah Jiwo Barat, batuan Eosen tersingkap di Gunung Cakaran dan di daerah sebelah baratlautnya, di tengah-tengah pemukiman Desa Sekarbolo. Di Gunung Cakaran semua litologi satuan batuan Eosen dijumpai, namun karena tertutup soil pelapukan yang tebal singkapannya terdapat secara setempat-setempat sehingga kontak litologinya tidak dapat diamati. Pada lereng barat Gunung Cakaran, dari bagian bawah lereng ke atas, dijumpai mulai dari filit yang telah lapuk, di atasnya setempatsetempat dijumpai konglomerat, kemas tertutup dengan butiran saling bersinggungan, butirannya sampai berukuran kerakal, kebanyakan fragmennya terdiri dari kuarsit, filit yang telah lapuk, sedikit rijang, dan sekis. Di atas konglomerat, tanpa teramati kontaknya, dijumpai batupasir kuarsa, keras, masif tak berlapis, berbutir sedang sampai kasar. Pada level ketinggian yang sama dijumpai lensa batugamping foram besar yang mengandung Nummulites dan Discocyclina. Di bagian atas serpih, abu-abu, gampingan, dengan kedudukan miring ke arah baratdaya dengan kemiringan 23º (Gambar-6). Pada lokasi dengan jarak sekitar 1 km dari Gunung Cakaran ke arah baratlaut, di daerah Sekarbolo, dijumpai singkapan menerus batupasir kuarsa dan perlapisan batugamping foram. Secara stratigrafi batupasir kuarsa berada di bawah perlapisan batugamping foram dengan kedudukan miring ke arah baratdaya dengan kemiringan 35º.

Di daerah Jiwo Timur, batuan Eosen tersingkap di Desa Padasan-Watuprau dan di daerah sebelah selatannya, di Desa Gamping, di lereng tenggara Gunung Pendul. Di Desa Padasan dijumpai singkapan penting yang menunjukkan kontak antara satuan filit dengan batugamping foram. Kontak ketidakselarasan antara dua jenis batuan ini ditandai dengan terdapatnya lapisan tipis konglomerat yang terdiri dari fragmen filit dan sekis dan kuarsit di bawah lapisan batugamping foram. Hubungan yang sama antara satuan batuan filit dengan batuan Eosen juga dijumpai di daerah Watuprau. Disini dijumpai kontak langsung secara tidak-selaras antara batugamping foram yang menumpang di atas filit. Di atas batugamping terdapat batupasir kuarsa, berlaminasi sejajar, agak lapuk dengan kedudukan perlapisannya miring ke selatan sebesar 42º. Urutan batuan ini diterobos oleh intrusi gabro Gunung Pendul. Ke arah selatan dari lokasi Watuprau berjarak sekitar 200 m, di Desa Gamping dijumpai singkapan batuan sedimen klastik berukuran halus yang terdiri dari batulanau dan serpih. Bagian atas satuan serpih dijumpai bongkahbongkah filit dan sekis berukuran sampai 15 cm dan individu fosil foram besar. Oleh Smyth dkk (2005) satuan ini disebut Pendul Slump.

Bagian atas dari satuan serpih ini di satu tempat dijumpai batupasir kerakalan yang mengandung fragmen-fragmen batuan Eosen dan batuan metamorf, seperti yang dijumpai di lereng tenggara Gunung Pendul. Batupasir kerakalan ini bersortasi buruk, terdiri dari fragmen-fragmen batuan-dasar yang segar (filit, sekis, urat kuarsa) dan batuan Eosen (batupasir, batugamping Nummulites) berbentuk menyudut dengan ukuran 0,5 – 40 cm.

Sumber : 
IAGEOUPN. 2010. Guide Book Field Trip Bayat-Karangsambung IAGEOUPN. Yogyakarta : Ikatan Alumni Geologi UPN.
Asikin, S. (1974) : Evolusi geologi Jawa Tengah dan sekitarnya ditinjau dari segi tektonik dunia yang baru. Laporan tidak dipublikasikan, disertasi, Dept. Teknik Geologi ITB, 103 hal.
Prasetyadi (2007): Evolusi tektonik Paleogen Jawa Bagian Timur, disertasi ITB, tidak dipublikasikan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...