Translate This !

Friday, April 16, 2010

Bentanglahan Basin Wonosari

Wonosari basin (49L, 0446562 mT, 9113950 mU). Titik ini terletak di Desa Karangduwet, Kecamatan Karangduwet. Di sebelah selatan titik ini masih bisa terlihat kerucut-kerucut karst (gambar 4.1.3.8), dan di sebalah utara titik ini merupakan rangkaian perbukitan struktural Baturagung (gambar 4.1.3.9). Hal ini menandakan bahwa di titik ini merupakan peralihan antara daerah perbukitan karst dengan Ledok  Wonosari.

Gambar 4.1.3.8 Perbukitan Karst di Sebelah Selatan Wonosari Basin
(Foto oleh Munawaroh, 2009)

Gambar 4.1.3.9 Perbukitan Struktural Baturagung di Sebelah Utara Wonosari Basin (Foto oleh Munawaroh, 2009)

Kondisi topografi ledok Wonosari adalah seperti piring. Ledok ini dikelilingi oleh perbukitan. Bentuklahan yang mendominasi di daerah ini antara lain di sebelah selatan merupakan perbukitan karst (lihat gambar 4.1.3.8), sedangkan di tengah merupakan ledok atau basin, dan di sebelah utara adalah perbukitan struktural (lihat gambar 4.1.3.9). Batuan di wilayah ini di dominasi oleh lempung yang berasal dari pelapukan batu gamping yang berasal dari perbukitan karst di sebelah selatan ledok ini.
Perbukitan di karst di sebelah selatan, dahulu mengalami pengangkatan sehingga membentuk topografi yang lebih tinggi daripada sekitarnya. Begitu juga dengan di sebelah utara yang mengalami pengangkatan sehingga ledok ini mempunyai relief yang cekung seperti piring. Proses geomorfologi yang terjadi di daerah ini adalah terjadinya kembang kerut tanah yang besar saat musim kemarau tiba. Tidak hanya itu, di sebelah utara yang merupakan perbatasan atau peralihan antara perbukitan struktural Baturagung dan ledok Wonosari berpotensi terjadi longsor.

Gambar 4.1.3.10 Profil Basin Wonosari

Jenis tanah di ledok Wonosari ini adalah mediteran atau terarosa yang berwarna merah. Lapisan tanahnya relatif tebal dan subur karena terletak di ledok. Tanah di daerah ini mempunyai kembang kerut yang besar karena berasal dari lempung monmolironit. Kandungan gamping di dalam tanah ini tinggi karena tanahnya ini merupakan hasil dari pelapukan sedimentasi material aluvial dan kolluvial. Konservasi air dan tanah buruk, sehingga digunakan untuk pertanian musiman dan pertanian kering. Sumber air daerah ini adalah dari rainfall  atau air hujan sedangkan air tanahnya bersifat tawar. Flora yang dapat ditemui di sekitar titik ini adalah tanaman pertanian semusim, ketela pohon, kacang, pisang dan lain-lain. Fauna yang dapat ditemui adalah serangga kecil karena di titik ini merupakan areal pertanian semusim.
         Fenomena dan masalah lingkungan fisik di daerah ini adalah jenis tanah yang mempunyai kembang kerut yang besar. Apalagi saat musim kemarau tanah di sekitar ledok ini akan mengerut, dan saat musim penghujan tanah ini akan mengembang sehingga jalan yang melintasi daerah ini sering rusak. Kekurangan air di daerah ini juga bisa menjadi suatu masalah sebab penduduk sekitar hanya mengandalkan dari air hujan saja. Kendala aseksibilitas dengan daerah-daerah lain di luar Kabupaten Gunung Kidul ini juga bisa menjadi satu masalah sebab kondisi fisik yang menghambat hubungan dengan daerah-daerah lainnya.
         Ditinjau dari bentang budayanya daerah ledok Wonosari ini termasuk dalam tipe bentang desa. Daerah ini merupakan daerah pertanian semusim, sehingga penduduk tidak ditemui di area ini. Konsentrasi penduduk terjadi di Kota Wonosari.karena kota ini cenderung subur dan air bisa didapatkan dengan mudah. Kota Wonosari merupakan pusat kegiatan dan aktifitas sebagian besar masyarakat Kabupaten Gunung Kidul. Kepadatan penduduk yang sedang menyebabkan pertumbuhan penduduk yang sedang pula. Struktur demografi daerah ini adalah tua, sebab banyak angkatan kerja yang bermigrasi keluar daerah.
         Kondisi permukimannya pada umumnya masih tradisional, tetapi ada juga yang rumah semi modern. Pola permukimannya adalah mengikuti akses jalan dan mengelompok. Bahan dasar sebagian besar rumah penduduk di sekitar Ledok Wonosari adalah material bangunan dan kayu. Kondisi ekonomi daerah ini sangat terpengaruh dengan adanya remitten. Sebab banyak penduduk yang bermigrasi keluar daerah dan mengirimkan pengasilannya ke daerah asal. Bahkan sebagian besar Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Gunung Kidul berasal dari remitten. Wilayah inipun bisa berkembang karena remitten.  Di daerah ini juga banyak ditemui petani yang pendapatannya rendah sehingga banyak penduduk yang bermigrasi keluar daerah.
         Kondisi sosial budaya masyarakat di daerah ini masih tradisional, mempunyai daya juang yang tinggi, relasi sosial yang kuat. Stratifikasi sosial yang masih sederhana sehingga perbedaan status sosial tidak terlalu kentara. Lembaga-lembaga masyrakatnya juga terbatas. Pendidikan yang cenderung sedang, banyak mahasiswa yang pergi merantau ke luar daerah untuk menimba ilmu agar mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Tingkat kesehatan penduduk juga cenderung sedang.
         Penggunaan lahan atau pemanfaatan ruang di daerah ini, digunakan untuk tegalan, pertanian multicroping, pertanian sistem tumpangsari, pertanian semusim, dan lain-lain. Daerah ini termasuk dalam kawasan budidaya dimana masyarakat bisa beraktifitas melakukan kegiatannya misalnya bertani dan sebagainya.
 Fenomena dan masalah sosial yang menonjol adalah banyaknya kasus perselingkuhan yang terjadi di Kabupaten Gunung Kidul. Tingginya kasus perselingkuhan ini disebabkan banyaknya penduduk yang pergi bermigrasi atau merantau keluar daerah. Selain itu wilayah ini sulit berkembang karena faktor lingkungan fisik yang menghambat pendistribusian barang dari kota ke daerah ledok ini. Namun, saat ini Pemerintah Daerah berencana membuat terowongan bawah tanah yang menghubungkan Kota Wonosari dengan kota-kota di sekitarnya sehingga aliran barang lebih lancar.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...