Translate This !

Wednesday, January 26, 2011

Mitos "Awan Petruk" Setelah Letusan Merapi

Fenomena "awan petruk", yang terjadi pada 25 Oktober di dekat Merapi sebelum letusan besar, dapat dilihat dari Magelang, Jawa Tengah.Masyarakat lalu menghubung-hubungkan awan itu dengan letusan Merapi sehari kemudian.


Menurut peneliti gunung api dari Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Igan Sutawijaya, awan itu sebetulnya asap akibat erupsi vertikal Merapi. Asap itu membawa gas solfatara berikut abu-abu vulkanik. Asap ini mirip dengan wedhus gembel hanya saja gerakannya membubung tinggi ke angkasa. "Angin dan awan mungkin saja membentuknya menjadi formasi itu," kata Igan yang dihubungi lewat telepon pada Senin (8/10). Igan juga menambahkan kalau dari daerah selain Magelang, awan itu bisa saja tampak berbeda.


Igan juga menegaskan kalau asap seperti ini sudah biasa dikeluarkan gunung api. Asapnya bisa saja berhubungan dengan erupsi, tapi bentuknya tidak menentukan kejadian erupsi, jelasnya.


"Awan petruk" yang diambil gambarnya oleh Suswanto, warga Srumbuung, Magelang, pada 25 Oktober selepas subuh, memperoleh nama dari satu tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa. Tokoh wayang bernama Petruk itu dapat dikenali dengan hidungnya yang panjang.


Ketika muncul awan yang penampakannya mirip Petruk, banyak penafsiran yang muncul. Sastrawan Jawa modern Suwardi Endraswara berkata kepada Detikcom kalau ada tafsiran yang menyebutkan kalau kemunculan awan petruk yang mengarah ke selatan berarti "meninggalkan". "Artinya bisa meninggalkan hal-hal jelek agar tidak dihukum Tuhan atau meninggalkan Merapi karena berbahaya," jelas Suwardi.


Ponimin, yang disebut-sebut pengganti Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi, menyatakan bahwa sosok mirip Petruk itu merupakan salah satu penunggu Merapi. Menurutnya, seperti ditulis Detikcom, hidung Petruk yang menghadap Yogyakarta mengandung arti Merapi mengincar Yogyakarta.


Sumber : NGI Online
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...