Translate This !

Wednesday, November 10, 2010

Morfologi MERBABU

Gunung Merbabu merupakan salah satu gunungapi strato volkano (gunungapi berlapis antara batuan lava dengan batuan piroklastika) di Pulau jawa yang letaknya secara astronomis terletak di  7°8' - 7°35'27" LS dan 110°1' - 110°26' BT.  Gunung ini memiliki ketinggian 3145 m dari permukaan air laut.  Kota kota terdekat dengan gunung ini yaitu Magelang, Salatiga dan Boyolali (merupakan ibu Kota Kabupaten).  
(http://pasains.blogspot.com/2006/08/merbabu-jawa-tengah_30.html)

Komplek Gunungapi Merbabu tidak hanya dikenal dengan kesuburan tanahnya, tetapi dikenal juga dengan potensi wisatanya, diantaranya panorama alam yang indah dengan ketinggian, serta kesejukan udaranya, membuat para wisatawan baik domestik maupun manca negara menikmatinya, selain itu juga lahan pertanian yang sangat menarik bagi wisatawan.

Menurut catatan sejarah letusannya, gunungapi Merbabu ini mengalami hanya satu kali erupsi sejak Tahun 1600, yakni pada 1797. Letusan tersebut tidak banyak diketahui oleh para ahli waktu itu (tidak ada laporan terinci mengenai kegiatan letusannya). Letusannya diperkirakan dengan letusan central yang bersifat explosif (Tom Simkin dan Lee Siebert, 1994).

Karakter Letusan : Dominan explosifnya berupa aliran dan jatuhan piroklastika, berselang seling efusiva lava.
Perioda Letusan : Belum diketahui secara rinci, oleh karena terbatasnya data-data literatur, maupun laporan-laporan terdahulu.

Bentuk dan struktur Gunungapi Merbabu, bentuknya besar sekali jika dibandingkan dengan gunung Merapi yang sangat ramping yang tampaknya merupakan suatu gunungapi yang tumbuhnya berlebihan. Bagian puncaknya dapat dibagi menjadi tiga satuan yang merupakan sektor Graben Gunungapi, yakni :

a. Graben Sari dengan arah timur tenggara – barat baratlaut.
b. Graben Guyangan dengan arah selatan baratdaya – utara timur.
c. Graben Sipendok dengan arah barat laut – timur tenggara.

Erupsi samping gunungapi Merbabu banyak menghasilkan aliran lava dan aliran piroklastik, aliran lava tersebut mengalir melalui titik erupsi yang diselimuti oleh endapan piroklastika baik aliran maupun jatuhan. Titik-titik erupsi tersebut diperkirakan melalui jalur sesar dengan arah utara baratlaut – selatan tenggara serta melalui daerah puncak.
Morfologi gunungapi Merbabu dapat dibagi menjadi beberapa satuan berdasarkan penampilan bentuk rupa bumi pada peta topografi (Hamidi.S dkk 1988) masing-masing :
  1. Satuan morfologi sisa graben (daerah sekitar puncak), satuan morfologi ini terdiri dari 3(tiga) bagian yakni Graben Sari, Graben Guyangan dan Graben Sipendok. Ketiga graben tersebut diperkirakan adalah hasil kegiatan volkano tektonik dimana kegiatan tektonik berupa sesar di-ikuti oleh kegiatan erupsi dan kemudian di-ikuti pula oleh kegiatan erupsi samping yang membentuk kerucut erupsi samping.
  2. Satuan morfologi aliran lava Kopeng, satuan morfologi aliran lava ini jelas dapat dilihat di lapangan yang membentuk punggung lava yang sangat menonjol, dimana batuan yang mengalasi berupa aliran lava.
  3. Satuan morfologi Kerucut Watutulis,Satuan morfologi ini merupakan kerucut erupsi samping (flank eruption) yang banyak menghasilkan aliran lava yang bersifat andesitis – basaltis dan piroklastika, baik aliran maupun jatuhan.
  4. Satuan morfologi Kerucut Gunung Pregodalem, keadaan satuan ini sama dengan satuan morfologi kerucut Gunung Watutulis, dimana kerucut ini dapat dipertimbangkan sebagai sumber bahaya apabila terjadi peningkatan letusan.
  5. Satuan morofologi titik-titik erupsi samping, satuan morfologi ini sangat banyak terdapat didaerah gunung Merbabu, berdasarkan peta rupa bumi daerah yang terkait, satuan morfologi ini membentuk suatu kelurusan rupa bumi yang ber-arah utara baratlaut – timur tenggara, bentuk kelurusan rupa bumi ini dapat mencerminkan adanya bentuk struktur sesar yang melalui daerah puncak gunungapi Merbabu.
Stratigrafi gunungapi Merbabu, sifat letusan dari pada gunungapi ini diantaranya adalah eksplosif, disamping itu bersamaan dengan sifat efusif yang dapat dibuktikan dengan adanya aliran lava, baik yang berasal dari pada kegiatan erupsi pusat maupun erupsi samping. Sifat eksplosif dapat dibuktikan dari banyaknya endapan piroklastika yang tebal. Secara umum gunungapi Merbabu terdiri atas aliran piroklastika, aliran lava, endapan banjir bandang pada Th 1985 dan endapan longsoran (Hamidi,1988)
  1. Aliran piroklastika, ini menyebar di seluruh bagian tubuh gunungapi Merbabu, sifat singkapan tertentu dengan warna abu-abu ke-kuningan, berbutir halus hingga kasar, kadang kala ditemukan lapisan semu (“surge”), lokasi singkapan dapat dilihat di sekitar Jrakah ditemukan lapisan sebanyak lebih dari 12 lapisan piroklastika aliran dengan tanah hasil pelapukan yang sangat tebal.
  2. Aliran lava, gunungapi Merbabu secara umum mengisi bagian lembah sungai yang terdapat di sekitar gunungapi tersebut, ber-umur paling muda menurut urutan umur stratigrafi. Akan tetapi di daerah Selo Redjo ditemukan aliran lava tua dengan sifat pelapukan yang sudah lanjut. Di daerah Kopeng aliran lava membentuk suatu pematang aliran lava yang sangat tinggi dan membentuk lidah lava.
  3. Endapan banjir bandang di daerah gunungapi Merbabu di temukan didaerah Kaponan, pada dasar sungai Soting, dimana menurut keterangan penduduk setempat pada Th.1985 telah terjadi banjir bandang yang telah merusak jembatan penghubung antara Kaponan dengan daerah lainnya, sifat endapan banjir bandang ini seperti endapan sungai, terdiri dari bongkah-bongkah lava andesitis sampai basaltis, pasir sangat kasar, masih segar dan mudah lepas.
  4. Endapan longsoran (debris avalanche) dapat ditemukan didaerah Salatiga, dimana bukaan yang sangat besar dengan arah ke utara – timurlaut, yakni daerah wilayah Salatiga.

Beberapa peneliti terdahulu diantaranya adalah Junghun pada Tahun 1850 dan Verbeek & Fennema pada Tahun 1896. Menurut Verbeek & Fennema Th.1896, telah menemukan hasil erupsi berupa lava basaltis yang mengalir dalam sungai-sungai kecil diantara Boyolali dan Selo. Van Bemmelen, R.W. 1941, telah memetakan daerah G. Merbabu serta membagi beberapa satuan batuan hingga menjadi 9 (sembilan satuan) diantaranya:

1. Kerucut Merbabu (terutama lava basaltis andesitis dan breksi).
2. Dataran tinggi Kopeng yang diselimuti oleh lapisan abu.
3. Kaki kerucut Merbabu (terutama breksi lahar dan lava)
4. Aliran lava muda kerucut Merbabu (erupsi samping)
5. Kaki utara Merapi diselimuti oleh abu G.Merapi
6. Kawah (erupsi samping)
7. Erupsi pusat berupa aliran lava muda
8. Mofet dan solfatara di gunungapi Merbabu.
9. Sisa struktur volkano – tektonik (sektor graben)

Penelitian yang dilakukan oleh Neuman van Padang 1951, telah menemukan bahwa gunungapi tersebut telah mengeluarkan basalt olivin augit, andesit augit dan andesit hornblende hiperstein augit.

Demikian pula menurut Mac Donald 1972, melaporkan bahwa pada th.1797, gunungapi Merbabu meletus melalui erupsi samping dan erupsi pusat, namun tidak dilaporkan bahwa hasil erupsi yang telah dikeluarkan serta kerusakan dan korban akibat kegiatan erupsi tersebut.

GEOKIMIA 

Jenis Batuan : Menurut Neuman van Padang 1951, batuan yang dihasilkan oleh Gunungapi Merbabu adalah ; Basalt olivin augit, Andesit augit dan Andesit hornblende hiperstein augit.

MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI 

Pemantauan aktivitas gunungapi Merbabu dilakukan secara Visual dari Pos Pengamatan yang terdekat (G.Merapi). Daerah Bahaya Gunungapi Merbabu yang dilakukan oleh Hamidi.S dkk, 1988, dapat dibagi menjadi 3(tiga) kategori, diantaranya adalah :
  1. Daerah Bahaya Primer, daerah bahaya ini meliputi daerah puncak dan sekitarnya dengan radius sekitar 4-5 Km dari titik pusat erupsi, selain itu mempertimbangkan pula adanya titik-titik erupsi samping yang menempati zona pelurusan topografi dengan arah baratlaut – tenggara. Daerah yang termasuk kedalam daerah bahaya primer ini tidak selayaknya untuk dikembangkan apabila kegiatan gunungapi Merbabu menunjukkan peningkatan kegiatan yang nyata, baik erupsi normal atapun erupsi samping.
  2. Daerah Bahaya Lontaran, dapat dibagi menjadi 2(dua) bagian masing-masing berbentuk lingkaran yang mempunyai radius antara 5 dan 6 Km dari titik erupsi (puncak), daerah ini kemungkinan besar dilanda oleh bahan-bahan jatuhan piroklastika (efflata maupun tefra), daerah ini dapat juga disebut sebagai daerah Waspada terhadap lontaran. Bahaya yang mungkin melanda daerah waspada terhadap lontaran ini tidak bergantung pada topografi, sehingga apabila terjadi kegiatan gunungapi yang berupa letusan yang menghasilkan jatuhan piroklastika, tindakan yang tepat adalah mencari perlindungan yang kuat atau meninggalkan tempat pemukimannya.
  3. Daerah Bahaya Sekunder, daerah bahaya ini kemungkinan dilanda oleh lahar hujan. Daerah ini meliputi morfologi rendah yang memungkinkan untuk dilanda oleh aliran lahar sekunder, sehingga daerah bahayanyapun terdapat disekitar daerah aliran sungai yang berhulu dari daerah puncak gunungapi Merbabu.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...