Translate This !

Showing posts with label geology. Show all posts
Showing posts with label geology. Show all posts

Friday, May 2, 2014

MUD VOLCANOES

Definisi
Mud volcano didifinisikan sebagai endapan lumpur yang mempunyai densiti lebih ringan dari batuan sekitarnya, mobilitas tinggi, naik kepermukaan melalui bidang lemah sebagai konduit baik berupa sesar sera rekahan-rekahan dan membentuk kerucut seperti gunung api dengan ketinggian berkisar dari 17-30 meter. Sebelum munculnya istilah endapan lumpur (mud volcano), masyarakat setempat di Pulau Timor yang kaya akan gunung api lumpur di Indonesia, menyebutkan sebagai ‘poton’. Sebaliknya, nama mud volcano dapat disebut sesuai dengan lokasi di mana mereka tersingkap (misalnya lusi-lumpur Sidoarjo, lapindo, dll)

Thursday, March 20, 2014

Volcanic Landforms and Processes

Whats the different between volcanism and volcanoes?

Fig. 1

Volcanism is the process by which magma and associated gases rise onto the Earth's crust and are extruded on the earth's surface or in the atmosphere. And Volcanoes is the surface manifestations of volcanism. Global pattern of volcanism are related to plate boundaries (active seismic regions)(Fig 1). The type of volcanic activity depemds mainly on the type of plate boundary. The shape and dimensions of a volcano depend mainly on the eruption type. (see the image below)

Wednesday, October 10, 2012

Type of Coast


Types of Coasts and Beaches
The damage by storms, surges, and tsunamis depends in part of the type of coast. There are many different types, and many different ways to classify coasts.

Geological Setting
The geological setting is important. The Office of Naval Research web page on Coasts divides coasts into two categories:
  1. Primary Coasts, which were created by non-marine processes. The processes include erosion, deposition, and tectonic activity. River deltas are an important example
  2. Secondary Coasts, which were formed by marine action. The processes include deposition of sand by waves and currents, and growth of reefs by corals. Barrier islands are an important example.

Tuesday, February 22, 2011

Fosil dari Periode Geologi Tertua ternyata ADA DI CHINA !

Ilustrasi Fosil
Mungkin kita sering mendengar ungkapan "carilah ilmu sampai negeri China", dan ternyata istilah ini tidak sembarang ungkapan ! Kenapa ? Karena di negeri tirai bambu tersebut memiliki banyak misteri ilmu pengetahuan yang luar biasa. Seperti halnya berita terbaru yang dilansir oleh Nationnal Geographic Indonesia tentang penemuan spektakuler di China khususnya di bidang arkeologi tentang fosil tertua yang pernah ditemukan dari periode geologi tertua yang pernah diketahui manusia. Fosil yang berasal dari periode geologi tertua ditemukan di China Selatan. Sebagian besar belum dapat dipastikan klasifikasinya.

Friday, February 4, 2011

SEJARAH TEKTONIK PULAU JAWA (III)

Masih membahas tentang sejarah tektonisme pulau jawa, evolusi tektonik tersier pulau jawa memasuki periode Eosen (Periode Ekstensional /Regangan). Periode ini terjadi Antara 54 jtl – 45 jtl (Eosen), dimana di wilayah Lautan Hindia terjadi reorganisasi lempeng ditandai dengan berkurangnya secara mencolok kecepatan pergerakan ke utara India. Aktifitas pemekaran di sepanjang Wharton Ridge

SEJARAH TEKTONIK PULAU JAWA (II)

Evolusi Tektonik Tersier Pulau Jawa
Pulau Jawa merupakan salah satu pulau di Busur Sunda yang mempunyai sejarah geodinamik aktif, yang jika dirunut perkembangannya dapat dikelompokkan menjadi beberapa fase tektonik dimulai dari Kapur Akhir hingga sekarang.

Thursday, February 3, 2011

SEJARAH TEKTONIK PULAU JAWA

Pemekaran Lantai Samudera Hindia
Pulau Jawa berada di tepi tenggara Daratan Sunda (Sundaland). Pada Daratan Sunda ini terdapat dua sistem gerak lempeng; Lempeng Laut Cina Selatan di utara dan Lempeng Samudera Hindia di selatan. Lempeng Laut Cina Selatan bergerak ke tenggara sejak Oligosen (Longley, 1997), sedangkan Lempeng Samudera Hindia yang berada di selatan bergerak ke utara sejak Mesozoikum dan menunjam ke bawah sistem busur kepulauan Sumatra dan Jawa (Liu dkk., 1983). 

Wednesday, February 2, 2011

Satuan Batuan Paleogen (Eosen) Perbukitan Jiwo - Bayat

Masih membahas satuan batuan di Perbukitan Jiwo, Bayat., Satuan batuan paleogen Menumpang secara tidak selaras di atas satuan batuan Pra- Tersier adalah Formasi Wungkal-Gamping yang berumur Eosen Tengah dan terdiri dari konglomerat, batupasir kuarsa, batugamping numulit, dan batulempung.

Satuan Batuan Pra-Tersier Perbukitan Jiwo - Bayat

Perbukitan Jiwo, Bayat oleh peneliti terdahulu diinterpretasikan memiliki tatanan tektonik mirip dengan daerah Luk Ulo, Karangsambung (Asikin, 1974; Hamilton, 1979). Beberapa peneliti telah melakukan kajian geologi secara umum di daerah ini, diantaranya Bothe (1929), Van Bemmelen (1949), Sumosusastro (1956),

Geologi Daerah Perbukitan Jiwo – Bayat

Daerah Bayat terletak sekitar 45 Km tenggara Yogyakarta. Di daerah Bayat kelompok batuandasar Pra-Tersier yang tersingkap terdiri dari filit, sekis mika, dan marmer. Umur komplek batuandasar ini belum diketahui. Sebaran batuan Pra-Tersier di Bayat yang terdapat di Perbukitan Jiwo terbagi dua oleh aliran K. Dengkeng,

Thursday, January 27, 2011

Analisis Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Gunungapi

Pemetaan kawasan rawan bencana gunungapi sangat penting dilakukan di Indonesia yang secara fisiografis memiliki deretan gunungapi "ring of fire". Pemetaan ini sangat membantu dalam mengurangi resiko bencana ketika gunungapi meletus, mengingat bencana gunungapi ini merupakan bencana yang memiliki episode-episode bahaya selama gunungapi tersebut aktif seperti gempa vulkanik, awan panas, hujan abu, dan banjir lahar. Dengan begitu, dibutuhkan analisis dasar untuk melakukan pemetaan kawasan rawan bencana gunungapi agar bisa mengantisipasi kerugian yang ditimbulkan oleh bencana. Adapun analisis tersebut meliputi :
  1. Analisis Bentang Alam yang mencakup : (a) Analisis morfografi (Analisa daerah puncak/kawah, pola aliran sungai, anomali pola aliran dan pola cabang-cabang sungai). (b) Analisis morfogenesa (Analisa pola sebaran dan stratigrafi batuan, perkembangan kegiatan letusan dan struktur geologi gunungapi. (c) Analisis Morfometri (Kemiringan lereng, bentuk lereng, panjang lereng, tingkat torehan erosi lereng, bentu, lebar, dan kedalaman lembah, pola lembah, pola sebaran lembah dan analisa perpindahan titik erupsi, pusat erupsi, erupsi samping, posisi titik pemunculan gas gunungapi. (d) Analisis morfokronologi (Menganalisis proses yang mempengaruhi perubahan konfigurasi tubuh gunungapi.)
  2. Analisis hubungan posisi topografi, mencakup analisis letak/kedudukan objek bencana terhadap topografi daerah sekitarnya.
  3. Analisis sumber/titik erupsi, mencakup analisis perkembangan pemunculan titik-titik erupsi (zonasi daerah lemah/kelurusan titik erupsi)
  4. Analisis pola sebaran lahar dan aliran piroklastik hasil kegiatan terakhir, sebagai dasar perkiraan pola endapan hasil letusan yang akan datang, yang dikaitkan dengan intensitas letusan.
  5. Analisis emisi gas, adalah zonasi daerah yang mempunyai lubang gas serta daerah alterasi, di daerah puncak dan daerah tubuh yang dikaitkan dengan struktur yang ada.
  6. Analsis tsunami yang berhubungan dengan gunungapi bawah laut yang mencakup letusan dan longsoran.

Sunday, January 23, 2011

Definisi Tanah

Horison Tanah
Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX)
Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus). 


Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870)

Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Kata Pedo =i gumpal tanah.
Tanah: adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: Bahan Induk, Iklim, Organisme, Topografi, dan Waktu. 

Monday, January 17, 2011

GEOMORFOLOGI PAPUA

Secara fisiografis Pulau Papua atau lebih dikenal Irian Jaya dari utara ke selatan di bagi ke dalam lima unit sebagai berikut (Van Bemmelen, 1949) :
  1. Pantai utara yang merupakan batas selatan blok melanesia
  2. Trough Memberamo-Bewani yang terletak antara batas selatan MElanesia dengan pegunungan di selatannya. Depresi geosinklin ini membentang dari pantai Waaropen sampai ke Matapau di timur.

TEKTONISME PAPUA

Secara umum terbentuknya Papua dipengaruhi oleh tiga lempeng yang dominan yaitu lempeng benua Australia di bagian selatan dan lempeng pasifik di bagian utara sebelah barat dan lempeng Eurasia di utara. Pulau Papua awalnya diperkirakan merupakan semenanjung utara Australia namun karena adanya pergerakan lempeng benua Australia yang bergeser ke utara mendekati Asia kira – kira 45 juta tahun yang lalu memungkinkan membanjirnya lautan ke daratan sehingga sejak saat itu hubungan Papua dan Australia menjadi terpisah. 

TATAAN TEKTONIK DAN SEJARAH KEGEMPAAN PALU, SULAWESI TENGAH

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
E-mail: daryono@bmkg.go.id


Gambar 1.
GEMPABUMI tektonik berkekuatan 5,3 pada skala richter (SR) mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (8/1/2011) pukul 16.15 WITA (Gambar 1). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam situsnya menyebutkan, pusat gempabumi terletak pada 0,85 Lintang Selatan dan 119,78 Bujur Timur. Gempabumi yang tidak berpotensi tsunami itu terjadi di kedalaman 23 kilometer dengan jarak 9 kilometer arah barat laut Kota Palu. 

Friday, January 14, 2011

What is karst?

Karst Morphology
Karst is the German form of the Indo-European word kar, which means rock. The Italian term is carso, and the Slovenian kras. In Slovenia, kras or krÅ¡ means ‘bare stony ground’ and is also a rugged region in the west of the country. In geomorphology, karst is terrain in which soluble rocks are altered above and below ground by the dissolving action of water and that bears distinctive characteristics of relief and drainage (Jennings 1971, 1).

WEATHERING: SEDIMENT PRODUCTION

Weathering debris
Weathering acts upon rocks to produce solid, colloidal, and soluble materials. These materials differ in size and behaviour (Gerrard, 2007):


1 Solids range from boulders, through sand, and silt, to clay (Table 3.1). They are large, medium, and small fragments of rock subjected to disintegration and decomposition plus new materials, especially secondary clays built from the weathering products by a process called neoformation. At the lower end of the size range they grade into pre-colloids, colloids, and solutes.

ROCKS AND MINERALS

The average composition by weight of chemical elements in the lithosphere is oxygen 47 per cent, silicon 28 per cent, aluminium 8.1 per cent, iron 5.0 per cent, calcium 3.6 per cent, sodium 2.8 per cent, potassium 2.6 per cent, magnesium 2.1 per cent, and the remaining eighty-three elements 0.8 per cent. These elements combine to form minerals. The chief minerals in the lithosphere are feldspars (aluminium silicates with potassium, sodium, or calcium), quartz (a form of silicon dioxide), clay minerals (complex aluminium silicates), iron minerals such as limonite and hematite, and ferromagnesian minerals (complex iron, magnesium, and calcium silicates). Ore deposits consist of common minerals precipitated from hot fluids. They include pyrite (iron sulphide), galena (lead sulphide), blende or sphalerite (zinc sulphide), and cinnabar (mercury sulphide). (Gerrard, 2007)

Tuesday, November 30, 2010

Teknik Pengukuran Tingkat Pelapukan Batuan

Tingkat erosi tanah yang terjadi di sesuatu daerah dapat ditentukan berdasarkan kriteria tingkat erosi yang telah dibuat oleh Kevie, (1976) dalam Zuidam, (1978). Cara penentuannya berdasarkan Tabel 2.3. dan Tabel 2.4 berikut ini.

Tabel 2.3. Kriteria Penentuan Tingkat Erosi Lembar
Tingkat
Kriteria
Tidak ada erosi
Tidak adanya erosi, horizon A berkembang baik
Ringan
Horizon A sebagian tererosi, alat-alat pertanian dapat mencapai

horizon dibawahnya
Sedang
Horizon A  amat tipis,  muncul permukaan horizon di bawahnya
Berat
Tanpa horizon A, sebagian horizon dibawahnya tererosi
Sumber : Kevie, (1976) dalam Zuidam, (1978)

Teknik Pengukuran Profil Lereng

G.1. Profil Baseline 217 NE Batu Belah, Parangtritis

        Lereng terbantuk oleh intreaksi antara dua pengaruh yaitu pengaruh internal (jenis dan sikap kedudukan batuan, tanah, vegetasi) dan pengaruh eksternal (proses denudasi, seperti pelapukan massa batuan dan erosi). Lereng memiliki parameter-parameter seperti kemiringan, panjang dan bentuk (cembung, cekung, atau lurus). Parameter-parameter lereng tersebut terbentuk sebagai akibat dari interaksi faktor internal dan eksternal tersebut di atas.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...