Translate This !

Showing posts with label pemetaan. Show all posts
Showing posts with label pemetaan. Show all posts

Thursday, March 31, 2011

Satuan Pemetaan Tanah

Atas dasar komposisi satuan-satuan tanah yang ada di dalam satuan lahan yang digunakan sebagai satuan pemetaan,  maka dikenal 4 macam staun pemetaan tanah (SPT) yaitu :

Pembuatan Peta Satuan Lahan

Satuan lahan adalah bagian dari  lahan yang mempunyai karakteristik yang spesifik. Sembarang bagian dari lahan yang menggambarkan karakteristik lahan yang jelas dan nyata, tidak peduli bagaimana caranya dalam membuat batas-batasnya, dapat dipandang sebagai satuan lahan untuk evaluasi lahan. Namun demikian evaluasi lahan akan lebih mudah dilakukan apabila satuan lahan didefinisikan atas  kriteria0kriteria karakteristik lahan yang digunakan dalam evaluasi lahan. (FAO, 1990).

Monday, February 7, 2011

PEMETAAN DASAR DANAU

Profil dasar danau
Pemetaan dasar danau/rawa/waduk mempunyai beberapa manfaat, antara lain adalah bila pemetaan dilakukan secara berturutan datanya akan dapat digunakan dalam memperkirakan laju sedimentasi danau/rawa/waduk. Dari data laju sedimentasi, pada akhirnya dapat ditentukan umur dari ketiga tubuh perairan (water body) tersebut.

Thursday, January 27, 2011

Analisis Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Gunungapi

Pemetaan kawasan rawan bencana gunungapi sangat penting dilakukan di Indonesia yang secara fisiografis memiliki deretan gunungapi "ring of fire". Pemetaan ini sangat membantu dalam mengurangi resiko bencana ketika gunungapi meletus, mengingat bencana gunungapi ini merupakan bencana yang memiliki episode-episode bahaya selama gunungapi tersebut aktif seperti gempa vulkanik, awan panas, hujan abu, dan banjir lahar. Dengan begitu, dibutuhkan analisis dasar untuk melakukan pemetaan kawasan rawan bencana gunungapi agar bisa mengantisipasi kerugian yang ditimbulkan oleh bencana. Adapun analisis tersebut meliputi :
  1. Analisis Bentang Alam yang mencakup : (a) Analisis morfografi (Analisa daerah puncak/kawah, pola aliran sungai, anomali pola aliran dan pola cabang-cabang sungai). (b) Analisis morfogenesa (Analisa pola sebaran dan stratigrafi batuan, perkembangan kegiatan letusan dan struktur geologi gunungapi. (c) Analisis Morfometri (Kemiringan lereng, bentuk lereng, panjang lereng, tingkat torehan erosi lereng, bentu, lebar, dan kedalaman lembah, pola lembah, pola sebaran lembah dan analisa perpindahan titik erupsi, pusat erupsi, erupsi samping, posisi titik pemunculan gas gunungapi. (d) Analisis morfokronologi (Menganalisis proses yang mempengaruhi perubahan konfigurasi tubuh gunungapi.)
  2. Analisis hubungan posisi topografi, mencakup analisis letak/kedudukan objek bencana terhadap topografi daerah sekitarnya.
  3. Analisis sumber/titik erupsi, mencakup analisis perkembangan pemunculan titik-titik erupsi (zonasi daerah lemah/kelurusan titik erupsi)
  4. Analisis pola sebaran lahar dan aliran piroklastik hasil kegiatan terakhir, sebagai dasar perkiraan pola endapan hasil letusan yang akan datang, yang dikaitkan dengan intensitas letusan.
  5. Analisis emisi gas, adalah zonasi daerah yang mempunyai lubang gas serta daerah alterasi, di daerah puncak dan daerah tubuh yang dikaitkan dengan struktur yang ada.
  6. Analsis tsunami yang berhubungan dengan gunungapi bawah laut yang mencakup letusan dan longsoran.

Pemetaan Bahaya Erupsi Gunung Api

Morfologi Merapi
Bencana merupakan peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, manusia dan/atau keduanya yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan Lingkungan, kerugian sarana-prasarana, dan utilitas umum, serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan Dan penghidupan masyarakat. (UU 24 th 2007 ). Sedangkan bencana gunungapi adalah salah satu bencana alam yang disebabkan oleh letusan atau kegiatan gunungapi yang mengakibatkan kerusakan tata lingkungan hidup dan penderitaan manusia. (Mardiatno, 2010).

Wednesday, January 26, 2011

SURVEY AND GEOMORPHOLOGICAL MAPPING

Survey and Geomorphological Mapping in Southwestern Slopes of the Structural hills  at Sumberharjo Village, Sleman.


        

Survey dan pemetaan geomorfologi sangatlah penting untuk bisa mendeskripsikan secara genetis bentuklahan dan proses-proses yang terjadi di masa lalu maupun masa sekarang dan hubungannya dengan bentuklahan dalam susunan keruangan. (Van Zuidam, 1979). Hal ini dimaksudkan agar pembangunan dan pengembangan suatu wilayah dapat berjalan secara efisien dan sesuai dengan syarat-syarat kelestarian lingkungan. (Dibyosuprapto, 2001).

Thursday, April 1, 2010

INTERPRETASI PENUTUP/PENGGUNAAN LAHAN SECARA STEREOSKOPIS BERDASARKAN FOTO UDARA PANKROMATIK HITAM/PUTIH


Foto udara mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan jenis-jenis citra lain terutama dengan resolusi spasial yang diberikannya. Disamping itu juga adanya kemampuan foto udara dalam menampilkan obyeknya secara stereokopis, yang dikarenakan oleh tampalan foto yang satu dengan yang lain. Penghitungan sederhana resolusi spasial foto udara adalah dengan rumusan sebagai berikut :
               Resolusi spasial foto udara = 1/40.000 x Penyebut skala

Terlepas daripada keunggulan dan keterbatasan foto udara pankromatik dibandingkan dengan FU IRed, semua jenis foto udara memiliki keunggulan dalam hal penyajian kenampakan stereoskopis. Hal ini dimungkinkan karena foto udara diperoleh dengan pemotretan yang berurutan pada suatu jalur terbang. Pertampalan (wilayah pada foto dengan kenampakan sama, interseksi atau overlap) antara 2 foto hasiol pemotretan yang berurutan pada suatu jalur terbang disebut Endlap, sedangkan pertampalan yang berurutan pada dua jalur terbang disebut sidelap. Endlap optimum biasanya sekitar 60% dari foto udara, sedangkan sidelap optimum adalah sebesar 15%. Jika kurang dari persentasi tersebut, maka biasanya wilayah yang dapat teramati secara tiga dimensi akan sangat terbatas. Namun jika lebih dari persentasi tadi misalnya endlap 90% maka biayanya akan sangat besar.
Karena obyek tampak dengan perujudan tiga dimensional, pengenalannya pada citra mudah dilakukan. Disamping itu, pengenalan obyek juga dapat juga dipermudah dengan dua hal, yaitu :
a.       Pembesaran tegak yang memperjelas relief dan
b.       Pembesaran (tegak dan mendatar) bila digunakan binokuler dalam pengamatannya, namun binokuler akan mengecilkan luas daerah pengamatan walaupun obyek diperbesar.
Kenampakan stereoskopis terjadi karena adanya perbedaan posisi pemotretan (sudut pandang) dan proyeksinya bersifat sentral, maka pada setiap foto terdapat paralaks, pergeseran relief, dan distorsi. Prinsip-prinsip perhitungan ini terdapat pada fotogrammetri. Sacara praktis kenampakan medan yang kasar pada dua foto udara yang saling bertampalan akan berbeda ukuran, arah, dan bentuknya. Khususnya apabila kenampakan tersebut terdapat pada bagian tepi foto. Obyek yang terdapat pada lereng yang curam ‘menghadap’ kamera pada posisi 1 (foto 1) akan tampak berbeda pada foto 2 di sebelahnya, apabila obyek ini tidak menghadap kamera pada posisi 2. ditambah dengan adanya pergeseran relief, perbedaan semacam ini sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan penafsir dalam menarik garis(delineasi) batas-batas kenampakan obyek.
Penggunaan kamera dengan panjang focus (focal length) yang kecil, atau biasa disebut dengan sudut lebar (wide angle), akan memperburuk diostorsi yang terjadi. Kesulitan yang sangat parah sering dijumpai pada penggunaan pasangan foto yang meliputi lereng atas dan kerucut vulkan, yang dipotret dengan kamera sudut lebar. Pada pasangan foto ini, kenampakan igir dan lembah pada foto kiri dan kanan dapat benar-benar bertentangan sehingga delineasi secara stereoskopis sulit dilakukan.

Tuesday, November 24, 2009

Mengenal Ilmu Ukur Tanah


Dalam ilmu ukur tanah ada tiga unsur yang harus diukur di lapangan, yaitu: jarak antara dua titik, beda tinggi dan sudut arah. Pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur sederhana sering disebut dengan pengukuran secara langsung karena hasilnya dapat diketahui sesaat setelah selesai pengukuran. Sebagai contoh alat teesebut adalah pita ukur dan abney level.


Sunday, November 15, 2009

Map Use and Generalizations

As we already know that the maps reflect the various types of information of the earth element and that there kaitanya with earth. Thus, the map is a good source of information because it can immediately visually map provides information on the spatial distribution pattern of the elements described.
To be able to use the map properly, there is phasing in its use. There are 3 stages in the use of maps, namely:
1. Read a map (map reading), which is more on identifying symbol and read the meaning of the symbol.
2. Analysis of the map (map analysis), at this stage been able to find out what is depicted on the map, which was followed by measuring or finding the value of these elements.
3. Interpretation of the map (map interpretation), that is more on finding answers to why a particular section has occurred in different patterns with patterns in other parts of the same map.
Dissimilarity information presented on the various maps that have different scales of generalization arises because of the aspect. Generalization itself can mean the selection and simplification of the elements on the map. Generalization occurs because increasing the density of the contents of the map by the reduction of scale and the limited ability of the eye in seeing the minimum size on the map. Generalization is closely related to map scale and map-making purposes. Generalization basically divided into 2, namely:
a. Generalization, geometric, rather the simplification of forms.
b. Conceptual generalization, rather the simplification of the mapped subject (done by people who understand the concept of the elements depicted).
Generalization aspect consists of the following:
1. Election
2. Simplification
3. Removal
4. Enlargement
5. Shift places
6. Stress
7. Combination
8. Classification
While generalizations can be done in a way:
a. Jump on a map that has diminished
b. Performed on the original map before the diminished
c. Done through intermediaries scale
Position / location of a place can be identified by determining the relative and absolute determination. Determination of relativism can be done by determining the direction and the direction, the direction and distance, and distance and distance. Absolute determination of a point on the map can be searched using the formula:
The position of the point (x, y)
Latitude (x) = latitude early +


Longitude (y) = initial + longitude

MAP LATTERING and LAY-OUT

Geographical names is one thing which is very important in preparing a map, either topographic maps or thematic maps. This geographic names should be included in the map because this name is used as the identification of an embodiment, although the actual name itself is not part of the earth. Placement of these geographic names must be precise and true so easily readable and not confusing for the user map. That's what made the rules of placement and type fonts used in representing an appearance. Principles of writing letters for the names of geography is as follows:
1. Administrative area and a place name, usually black but can also be another color, such as gray if the text is part of the base map in which thematic information printed on it.
2. Name the form of relief, such as mountains, hills written in the form of oblique (black italic).
3. Name perujudan waters or water, with italic type (italics) is blue, etc..
So in lattering, geographic names, the type font, spacing and placement of color has a meaning and perujudan elements associated with geography.
Besides lattering / placement of the names of geography, a good presentation of all information relating to the needs of readers of the map, especially in terms of the amenity to be read and interpreted is very necessary (usually called the lay-out map). In general, the information is placed in the edge information (marginal information) that includes a variety of important information such as map title, map scale, legend / caption, gratikul (longitude and latitude), charts the location of the index maps, data sources and other important information.
Sample Lay-Out Map
Determining the composition of the layout of the map or maps should consider ways that can touch the feelings of attraction (sensible) and also the element of beauty to be considered. The correct layout would make the overall appearance of the map becomes more attractive. One of the main factors considered are the existence of equilibrium (balance) in the layout of edge information. Font size (text), type the letter (style) has a role also in the composition of the layout of this edge information, and therefore the size of the letters is to be considered properly as well.

Representasi Relief

Secara sederhana relief dapat diartikan sebagai suatu konfigurasi nyata dari permukaan bumi, yaitu perbedaan-perbedaan dalam ketinggian dan kemiringan permukaan bumi. Relief merupkan gambaran permukaan bumi di bidang datar yang menjabarkan ketinggian dan kemiringan suatu tempat.
Relief dipresentasikan dengan cara membuat garis yang menghubungkan titik di permukaan bumi yang mempunyai ketinggian yang sama yang disebut garis kontur. Pembuatan garis kontur pada prinsipnya dilakukan secara logika, yaitu dengan cara interpolasi terhadap titik-titik hasil pengukuran dilapangan. Interpolasi itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Interpolasi linier, yaitu dengan cara interpolasi garis kontur mempergunakan perhitungan pada garis.
Contoh :
60 A(64m) Misal : tinggi A = 64cm, B = 32cm, Ci = 5m
55 Untuk mencari x dan y
50 A = 64m
45 B = 32m
40 Selisih = 32m
35 Jarak AB pada peta, misal 10 cm
B(32m) Besarnya x =
= 32x = 30cm
60 55 50 45 40 35 ( x dan y dapat dicari dengan cara sama )

b. Interpolasi grafis yaitu dengan cara membagi garis menggunakan garis lain dengan ukuran lebih mudah lalu digaris dengan mempergunakan prinsip garis sejajar untuk mendapatkan ukuran yang sebanding.
A (64 m)
4 bagian

B (32 m)
( Garis bantu, dibagi menjadi 2 bagian )
2 bagian

Beberapa kegunaan dari garis kontur adalah untuk mengetahui bentuk lereng, besarnya kemiringan lereng dan menunjukkan bentuk relief. Garis kontur yang rapat menunjukkan bentuk lereng yang terjal sedangkan garis kontur yang renggang menunjukkan bentuk lereng yang datar.
Cara hill shading, layer shading dan blok diagram dipakai agar kesan tiga dimensi muncul dalam merepresentasikan relief suatu kenampakan,. Pada prinsipnya, pembuatan hill shading adalah memberi bayangan pada suatu gambaran relief pada garis kontur, sedangkan layer shading menggunakan prinsip skala warna untuk mencerminkan ketinggian.
Pada peta dasar, relief ini digunakan sebagai orientasi untuk pembuatan peta tematik yang digunakan untuk keperluan bidang teknik sipil, seperti misalnya pembuatan irigasi, jalan dan lain-lain.

Proyeksi Peta

Proyeksi peta dapat diartikan sebagai cara pemindahan garis-garis paralell dan meridian dari globe (bidang lengkung) ke bidang datar dengan persyaratan sebagai berikut ;
1. Bentuk yang diubah itu harus tetap.
2. Luas permukaan yang diubah harus tetap.
3. Jarak antara satu titik dengan titik yang lain di atas permukaan yang diubah harus tetap.
Untuk memenuhi ketiga syarat itu sekaligus suatu hal yang tidak mungkin. Untuk memenuhi satu syarat saja dari tiga syarat di atas untuk seluruh bola dunia, juga merupakan hal yang tidak mungkin. Yang bisa dilakukan hanyalah satu saja dari syarat di atas untuk sebagian kecil permukaan bumi.
Oleh karena itu bidang yang diproyeksikan merupakan bidang lengkung, maka setiap sistem proyeksi selalu mengalami distorsi. Untuk memperkecil distorsi (penyimpangan) maka salah satu cara yang digunakan adalah dengan dipergunakannya bidang-bidang yang kalau didatarkan tidak mengalami distorsi selanjutnya, seperti bidang kerucut, silinder.
Proyeksi pet dapat digolongkan atas beberapa dasar, yaitu :
1. Berdasarkan garis karakteristik/kedudukan sumbe simetri :
a. Proyeksi Normal; sumbu simetri berimpit dengan sumbu bumi.
b. Proyeksi Trnsversal; sumbu simetri tegak lurus dengan sumbu bumi atau terletak pada bidang ekuator.
c. Proyeksi miring (Oblique); sumbe simetri membentuk sudut terhadap sumbu bumi.
2. Berdasarkan kesalahan/distorsi/sifat yang diperlihatkan :
a. Proyeksi Equivalent; luas daerah dipertahankan.
b. Proyeksi Equidistant; jarak pada peta dipertahankan.
c. Proyeksi Conform; bentuk pada peta dipertahankan.
3. Berdasarkan konstruksinya :
a. Proyeksi Perspektif; proyeksi yang konstruksinya memang bersifat matematis, jadi sama arti umumnya.
b. Proyeksi non perspektif; proyeksi yang tidak bersifat perspektif tetapi merupakan modifikasi dari proyeksi perspektif.
4. Berdasarkan bidang proyeksi :
a. Proyeksi Zenital/Azimuthal; bidang proyeksi berupa datar yang menyinggung bola pada kutub, equator atau di sembarang tempat. Pada proyeksi ini dibedakan lagi atas titik sumber penyinaran yaitu :
i. Gnomonis; arah sinar dari pusat bumi
ii. Stereografis; arah sinar dari kutub yang berlawanan dengan titik singgung proyeksi
iii. Orthografis; arah sinar dari titik jauh tak hinggga
b. Proyeksi Cyndrical (silinder); parallel merupakan garis lurus horizontal dan meridian berupa garis-garis lurus vertikal.
c. Proyeksi Conoc (kerucut), proyeksi yang normal mempunyai parallel yang melingkar dan meridian berupa garis lurus yang radial (baik terutama untuk negara-negara di lintang tengah.

SKALA PETA

Skala peta dapat diartikan sebagai :
a. perbandingan antara dua titik sembarang di peta dengan jarak horizontal kedua titik tersebut di permukaan bumi ( dengan satuan ukuran yang sama ).
b. Perbandingan antara jari-jari Globe dengan jari-jari bumi (spheroid).

Beberapa cara/metode dalam menyatakan skala, diantaranya :
1. Skala angka/skala pecahan (numerical scale) yaitu skala yang ditulis dengan angka atau pecahan.
Contoh : Skala angka (numeric sclae) yaitu 1 : 100.000
Skala pecahan (representative sclae) yaitu 1/100.000
Hal ini menunjukan bahwa satu satuan jarak pada peta mewakili 100.000 satuan jarak horizontal di lapangan/di permukaan bumi. Ini berarti 1 cm di peta mewakili 100.000 cm atau 1 km di lapangan atau 1 inchi mewakili 100.000 atau 100.000/63.360 mile.
2. Skala grafik (graphical scale line) yaitu skala yang ditunjukan oleh garis lurus yang dibagi-bagi menjadi satuan yang sama panjang, tiap-tiap unit/satuan menunjukan panjang yang sebanding di lapangan.
3. Skala verbal (verbal scale) yaitu skala yang dinyatakan dengan kalimat. Pada peta-peta yang tidak menggunakan satuan pengukuran metrik (misalnya peta-peta Inggris) pernyataan skala dengan kalimat sering dilakukan.
Contoh : one inch to one mile = 1 : 63.660

Beberapa peta kadang skala nya tidak tercantum di dalam nya, maka dari itu ada beberapa cara untuk mengetahui skala peta yang belum diketahui dengan beberapa metode berikut ini :
1. Membandingkan dengan peta lain yang sudah ada sklanya dan memiliki cakupan daerah yang sama.
Rumus yang digunakan :
Keterangan :
d1 = jarak pada peta yang sudah diketahui skalanya
d2 = jarak pada peta yang akan dicari skalanya
P1 = penyebut skala yang diketahui skalanya
P2 = penyebut skala yang akan dicari

2. Membandingkan suatu jarak horizontal di lapangan dengan jarak yang mewakilinya pada peta.
Contoh : jarak titik A-B dala peta = 4 cm
Jarak A-B tersebut diukur di lapangan = 100 m
Jadi skala peta = 4 cm/10.000cm = 1/2.500 atau 1 : 2.500

3. Memperhatikan garis kontur yaitu pada angka interval konturnya (terutama pada Peta Topografi skala besar - medium)
c.i (contour interval) = 1/2000 x penyebut skala
Contoh : diketahui c.i = 25 m, maka 25 (m) = 1/2000 x penyebut skala
Penyebut skala = 2000 x 25 = 50.000 jadi skala tersebut adalah 1 : 50.000
4. Menghitung jarak pada meridian di peta.




Panjang 1o latitudedekat ekuator = 68,7 mile atau 110,56 km, jadi 1,9 cm ~ 110,56 km atau 1 cm ~ 5.889.474 cm. Peta tersebut berskala 1 : 5.800.000 (dibulatkan).

Adapun cara untuk memperbesar dan memperkecil peta ( mengubah skala peta).
1. Dengan sistem grid bujur sangkar (Grid Square) atau sistem Union Jack
2. Dengan alat Maph-O-Graph
3. Dengan alat Pantoghaph


Rumus yang digunakan : m/M x 500
Keterangan : m = skala peta yang akan di rubah
M = skala peta yang diinginkan
500 = konstanta

IV. CARA KERJA
Dengan sistem grid bujur sangkar (grid square)
1) Menyiapkan peta yang akan diperkecil.
2) Buat garis kotak-kotak dengan ukuran 1x1 cm pada peta tersebut
3) Buat garis kotak-kotak pada kertas HVS lain dengan ukuran 0,5 x 0,5 cm dan jumlahnya sama dengan jumlah kotak-kotak pada peta.
4) Gambar peta pada kertas tersebut sesuai dengan letak garis yang tergambar pada peta, dengan bantuan garis kotak-kotak tadi.

Dengan Union Jack
1) Buat garis diagonal pada garis kotak-kotak yang telah digambar di peta
2) Buat garis kotak-kotak yang sama dengan di atas pada selembar kertas HVS, kemudian buat garis diagonalnya.
3) Gambar peta pada kertas tersebut sesuai dengan letak garis yang tergambar pada peta, dengan bantuan garis kotak-kotak dan diagonal.

Catatan : cara ini dipakai apabila peta/gambar yang akan diubah tidak terlalu banyak detil kenampakannya.


Dengan Map-O-Graph
1) Menyiapkan peta, alat map-o-graph, dan pensil
2) Letakkan peta dan kertas HVS kosong pada tempat yang telah disediakan pada mao-o-graph
3) Menyesuaikan skala pengecilan peta pada map-o-graph.
4) Gambar hasil peta yang telah diperkecil yang tampak pada alat.

Dengan Pantograph
1) Rangkai alat pantograph, sesuaikan ukuran pengecilan peta pada angka yang terdapat pada lengan pantograph.
2) Letakkan peta dan kertas HVS kosong hingga posisi yang sesuai.
3) Jalankan kaca pengamat sesuai dengan garis-garis pada peta.

Know Basic Cartographic

Cartography is a technique that is fundamentally linked to minimize the activities of a large area spatial part or the whole surface of the earth, or celestial bodies and present in a form that can be easily observed, so it can be used for communication purposes. (Sukwardjono, 1997)
Because it is used for communication purposes it needs special techniques and knowledge of aesthetics, then the ICA in 1973 concluded that cartography is an art, science, and technology of making maps, as well as covering his studies as scientific documents and works of art. (Khakim, Nurul, 2007)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...